Monday, April 21, 2008
Oleh: Elsya Crownia*
Sesungguhnya, strukturalis adalah sebuah metode analisis dalam ilmu linguistik yang dikembangkan oleh Saussere. Tujuannya untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian tanda, bahasa seperti yang dilakukan oleh Levis Strauss untuk mendeskripsikan mite, keteraturan hubungan, totemisme. Sedangkan Jaques Lacan, dalam alam bawah sadar, A.J Greimmas lebih menfokuskan pada grammar (tata bahasa dari karya sastra) dalam bentuk narasi. Mereka mencari dalm struktur tersembunyi, atau permukaan yang tampak. Social Semiotics kontemporer pun mulai bergeser dibawah concern strukturalis dengan menemukan relasi internal antara bagian-bagian di antara apa yang terkandung dalam suatu sistem.Dengan ekplorasi penggunaan tanda-tanda dalam situasi tertenu. Teori semiotik modern kemudian disatukan dengan menggunakan pendekatan Marxist yang diwarnai dengan aturan ideologi. Sebelum kita membahas lebih dalam sebelumnya, kita pahami pengertian dari semiotik itu sendiri. Semiotik adalah ilmu pengetahuan tentang tanda (science of sign). Biasanya semiotik lebih menfokuskan kajian bahasa, namun didalam karya sastra terlihat dijabarkan dalam bentuk mite-mite dan legenda yang terdapat dalam Lord of the Ring, Harry Potter, Narnia dan Eragon. Namun, unsur-unsur semiotik dalam buku tersebut lebih diidentikkan pada para penyihir, mantra-mantra dan ramuan-ramuan.
Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche zone ; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure, strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subyek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan yang dialami
Strukturalisme terutama berkembang sejak Claude Levi-Strauss Hubungan antara bahasa dan mitos menempati posisi sentral dalam pandangan Levi Strauss tentang pikiran primitif yang menampakkan dirinya dalam struktur-struktur mitosnya, sebanyak struktur bahasanya. Mitos biasanya dianggap sebagai “impian” kolektif, basis ritual, atau semacam “permainan” estetika semata, dan figur-figur mitologisnya sendiri dipikirkan hanya sebagai wujud abstraksi, atau para pahlawan yang disakralkan, atau dewa yang turun ke bumi sehingga mereduksi mitologi sampai pada taraf semata sebagai “mainan anak-anak”, serta menolak adanya relasi apapun dengan dunia dan pranata-pranata masyarakat yang menciptakannya. Perhatian Levis-Strauss terutama terletak pada berkembangnya struktur mitos dalam pikiran manusia, baik secara normatif maupun reflektif, yaitu dengan mencoba memahami bagaimana manusia mengatasi perbedaan antara alam dan budaya. Tingkah laku struktur mitos yang tak disadari ini membawa Lévi-Strauss pada analisis fonemik, di mana berbagai fenomena yang muncul direduksi ke dalam beberapa elementer-struktural dasar, namun dengan satu permasalahan yang mendasar.
Di satu sisi tampaknya dalam mitos apa saja mungkin terjadi. Tak ada logika di sana, tak ada kontinuitas. Karakteristik apapun bisa disematkan pada subjek apa saja ; setiap relasi yang mungkin bisa saja ditemukan. Namun di sisi lain, kearbitreran penampakan ini dipungkiri oleh keserupaan yang mengejutkan di antara mitos-mitos yang dikumpulkan dari berbagai wilayah yang amat luas? Jika muatan dari mitos bersifat kontingen, bagaimana kita menjelaskan suatu fakta bahwa mitos-mitos di seluruh dunia tampak hampir sama dengan aslinya (serupa).
Mitos, menurut Levi-Strauss, memiliki hubungan nyata dengan bahasa itu sendiri karena merupakan satu bentuk pengucapan manusia sehingga analisisnya bisa diperluas ke bidang linguistik struktural. Namun tentu saja, analogi seperti ini tidaklah eksak dan mitos tidak bisa dengan begitu saja disamakan dengan bahasa sehingga sekaligus pula harus ditunjukkan pula perbedaannya melalui konsep Saussure mengenai langue dan parole, struktur dan kejadian individual. Versi-versi individual yang berbeda-beda dalam tiap mitos, yaitu aspek parole-nya, diturunkan dari dan memberikan kontribusi pada struktur dasar langue-nya. Sebuah mitos, secara individual, selalu dikisahkan dalam suatu waktu: ia menunjuk pada kejadian-kejadian yang dipercaya begitu saja pernah terjadi di waktu lampau, namun pola spesifik atau strukturnya dikatakan sebagai sesuatu yang kekal dan historis: ia merangkum mode penjelasan tentang kekinian dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekaligus masa depan. Maka, setiap kali mitos dikisahkan kembali, ia menggabungkan elemen-elemen langue dan parole-nya, dan dengan begitu mentrandensikan keduanya sebagai penjelasan trans-historis dan transkultural atas dunia. Tidak seperti puisi, mitos tak terpengaruh oleh penerjemahan maknanya: penggunaan bahasa atau aspek linguistik yang paling rendah sekalipun cukup untuk mengungkapkan nilai mitikal dari mitos. Mitos merupakan bahasa, yang bekerja pada suatu tingkat di mana makna terlepas dari tataran linguistiknya.Berdasarkan anggapan ini, Lévi-Strauss memformulasikan dua proposisi dasar dalam hubungannya dengan mitos: makna dari mitologi tidak dapat muncul dalam elemen-elemennya yang terisolir, tetapi haruslah melekat dalam suatu cara elemen-elemen itu dikombinasikan, dan punya peran potensial bagi sebuah transformasi yang melibatkan kombinasi seperti ini. Bahasa di dalam mitos memperlihatkan ciri khasnya yang spesifik: ia menguasai tataran linguistik biasa.
Apa yang ingin coba ditangkap Levis-Strauss di sini adalah sense tentang adanya interaksi antara dimensi sinkronik dan diakronik, antara langue dan parole dalam mitos, sesuatu yang lebih dari sekadar kisah yang sedang diceritakan. Sebuah mitos selalu mengandung keseluruhan versinya, dan ia mengatakan bahwa mitos itu bekerja secara simultan pada dua sumbu, seperti halnya dalam partitur orkestral, untuk membangkitkan paduan nada dan harmoni. Di sisi lain, Levis-Strauss percaya bahwa ia telah menemukan sebuah metode analisis yang melengkapi aturan-aturan formasi, untuk memahami perpindahan dari satu varian mitos ke varian yang lain. Dalam prosesnya, agen-agen mediasi dan validasi bekerja mengatasi realitas kasar dan mentransformasikannya ke dalam bahasanya sendiri. Di sini, mitos muncul sebagai sebuah “perangkat-logika” yang berfungsi menciptakan ritus-perbatasan untuk mengatasi realitas yang saling beroposisi.
Pada titik inilah usaha Levis-Strauss untuk menemukan aspek langue mitos dan memisahkannya dari parole dengan melakukan analisis fonemik atasnya mencapai batas-batas terjauh dalam memahami bagaimana mitos dikonstruksi oleh masyarakat lampau. Tetapi Levis-Strauss terpukau dan berhenti di tingkat struktur yang secara rigid (kaku) memisahkan antara langue dengan parole sedemikian sehingga, baginya, di balik struktur tak ada apapun lagi. Kenyataan bahwa banyak mitos di dunia sangat mirip disimpulkannya dengan sederhana disebabkan oleh adanya aturan-aturan transformasi arbitrer yang menciptakan varian mitos. Kearbitreran ini dimungkinkan karena, bagi Levis-Strauss, satu-satunya yang kokoh hanyalah mode-mode operasi yang bekerja di dalam struktur. Pemeriksaannya terhadap langue mitos tidak membuka gagasan lebih jauh mengapa muncul ragam-ragam yang unik padanya. Padahal struktur mitos hanyalah penjelasan bahwa ia adalah “bahasa khusus” yang mesti dicari logos di balik langue-nya.
Dalam sebuah mitos suku-suku di Amerika Utara yang mengisahkan tentang Angin Selatan yang jahat karena begitu kencang dan dingin sehingga bila angin ini berhembus manusia tidak dapat beraktivitas secara normal. Demikianlah hingga semua makhluk hidup berusaha menangkap dan menjinakkannya. Pemburu yang berhasil adalah ikan skate yang kemudian menegosiasikan pembebasan angin dengan syarat bahwa ia diijinkan untuk berhembus hanya pada hari-hari tertentu secara berganti-ganti, sehingga meninggalkan daerah itu pada saat manusia dapat bepergian normal. Levis-Strauss menskemakan mitos tersebut dengan oposisi biner antara alam yang ramah terhadap manusia dengan alam yang bermusuhan, yaitu kehadiran angin dan ketidakhadiran angin, dan melihat aspek yang sama terhadap ikan skate pada posisi manusia memandang ikan tersebut, yaitu bila dilihat dari samping ia seperti segaris pipih yang nyaris tiada sedangkan dari atas tampak sangat besar. Ia menyatakan bahwa ketika orang Indian menjadikan ikan, skate sebagai “tokoh pendamai” pada masa transisi kedua kondisi alam tersebut sesungguhnya mereka tengah mengkonkretkan peranan mereka dalam menata alam. Logika konkrit ini dalam pandangan Levis-Strauss menunjukkan demikian mudahnya masyarakat lampau menetapkan suatu kesamaan antara spesies-spesies alam dengan segolongan masyarakat. Dan mendeskripsikan bahwa pada masyarakat dahulu, begitu tinggi penghargaannya terhadap alam. Mereka mencari narasi tersebut dalam struktur tersembunyi. Kelihatannya, strukturalis dan semiotik amat sulit dijabarkan sehingga begitu sulit untuk dianalisa lansung tanpa penelaahan yang teliti.
*Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu (FLI),Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Sastra dan Waka II MPM KM UNAND/ DPM KM UNAND periode 2007/2008.
Dimuat di Riau Pos 2007
Semiotika dan Strukturalis Dalam Sastra
Oleh: Elsya Crownia*
Sesungguhnya, strukturalis adalah sebuah metode analisis dalam ilmu linguistik yang dikembangkan oleh Saussere. Tujuannya untuk mendeskripsikan keseluruhan pengorganisasian tanda, bahasa seperti yang dilakukan oleh Levis Strauss untuk mendeskripsikan mite, keteraturan hubungan, totemisme. Sedangkan Jaques Lacan, dalam alam bawah sadar, A.J Greimmas lebih menfokuskan pada grammar (tata bahasa dari karya sastra) dalam bentuk narasi. Mereka mencari dalm struktur tersembunyi, atau permukaan yang tampak. Social Semiotics kontemporer pun mulai bergeser dibawah concern strukturalis dengan menemukan relasi internal antara bagian-bagian di antara apa yang terkandung dalam suatu sistem.Dengan ekplorasi penggunaan tanda-tanda dalam situasi tertenu. Teori semiotik modern kemudian disatukan dengan menggunakan pendekatan Marxist yang diwarnai dengan aturan ideologi. Sebelum kita membahas lebih dalam sebelumnya, kita pahami pengertian dari semiotik itu sendiri. Semiotik adalah ilmu pengetahuan tentang tanda (science of sign). Biasanya semiotik lebih menfokuskan kajian bahasa, namun didalam karya sastra terlihat dijabarkan dalam bentuk mite-mite dan legenda yang terdapat dalam Lord of the Ring, Harry Potter, Narnia dan Eragon. Namun, unsur-unsur semiotik dalam buku tersebut lebih diidentikkan pada para penyihir, mantra-mantra dan ramuan-ramuan.
Strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa seluruh organisasi manusia ditentukan secara luas oleh struktur sosial atau psikologi yang mempunyai logika independen yang menarik, berkaitan dengan maksud, keinginan, maupun tujuan manusia. Bagi Freud, strukturnya adalah psyche zone ; bagi Marx, strukturnya adalah ekonomi; dan bagi Saussure, strukturnya adalah bahasa. Kesemuanya mendahului subyek manusia individual atau human agent dan menentukan apa yang akan dilakukan manusia pada semua keadaan yang dialami
Strukturalisme terutama berkembang sejak Claude Levi-Strauss Hubungan antara bahasa dan mitos menempati posisi sentral dalam pandangan Levi Strauss tentang pikiran primitif yang menampakkan dirinya dalam struktur-struktur mitosnya, sebanyak struktur bahasanya. Mitos biasanya dianggap sebagai “impian” kolektif, basis ritual, atau semacam “permainan” estetika semata, dan figur-figur mitologisnya sendiri dipikirkan hanya sebagai wujud abstraksi, atau para pahlawan yang disakralkan, atau dewa yang turun ke bumi sehingga mereduksi mitologi sampai pada taraf semata sebagai “mainan anak-anak”, serta menolak adanya relasi apapun dengan dunia dan pranata-pranata masyarakat yang menciptakannya. Perhatian Levis-Strauss terutama terletak pada berkembangnya struktur mitos dalam pikiran manusia, baik secara normatif maupun reflektif, yaitu dengan mencoba memahami bagaimana manusia mengatasi perbedaan antara alam dan budaya. Tingkah laku struktur mitos yang tak disadari ini membawa Lévi-Strauss pada analisis fonemik, di mana berbagai fenomena yang muncul direduksi ke dalam beberapa elementer-struktural dasar, namun dengan satu permasalahan yang mendasar.
Di satu sisi tampaknya dalam mitos apa saja mungkin terjadi. Tak ada logika di sana, tak ada kontinuitas. Karakteristik apapun bisa disematkan pada subjek apa saja ; setiap relasi yang mungkin bisa saja ditemukan. Namun di sisi lain, kearbitreran penampakan ini dipungkiri oleh keserupaan yang mengejutkan di antara mitos-mitos yang dikumpulkan dari berbagai wilayah yang amat luas? Jika muatan dari mitos bersifat kontingen, bagaimana kita menjelaskan suatu fakta bahwa mitos-mitos di seluruh dunia tampak hampir sama dengan aslinya (serupa).
Mitos, menurut Levi-Strauss, memiliki hubungan nyata dengan bahasa itu sendiri karena merupakan satu bentuk pengucapan manusia sehingga analisisnya bisa diperluas ke bidang linguistik struktural. Namun tentu saja, analogi seperti ini tidaklah eksak dan mitos tidak bisa dengan begitu saja disamakan dengan bahasa sehingga sekaligus pula harus ditunjukkan pula perbedaannya melalui konsep Saussure mengenai langue dan parole, struktur dan kejadian individual. Versi-versi individual yang berbeda-beda dalam tiap mitos, yaitu aspek parole-nya, diturunkan dari dan memberikan kontribusi pada struktur dasar langue-nya. Sebuah mitos, secara individual, selalu dikisahkan dalam suatu waktu: ia menunjuk pada kejadian-kejadian yang dipercaya begitu saja pernah terjadi di waktu lampau, namun pola spesifik atau strukturnya dikatakan sebagai sesuatu yang kekal dan historis: ia merangkum mode penjelasan tentang kekinian dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekaligus masa depan. Maka, setiap kali mitos dikisahkan kembali, ia menggabungkan elemen-elemen langue dan parole-nya, dan dengan begitu mentrandensikan keduanya sebagai penjelasan trans-historis dan transkultural atas dunia. Tidak seperti puisi, mitos tak terpengaruh oleh penerjemahan maknanya: penggunaan bahasa atau aspek linguistik yang paling rendah sekalipun cukup untuk mengungkapkan nilai mitikal dari mitos. Mitos merupakan bahasa, yang bekerja pada suatu tingkat di mana makna terlepas dari tataran linguistiknya.Berdasarkan anggapan ini, Lévi-Strauss memformulasikan dua proposisi dasar dalam hubungannya dengan mitos: makna dari mitologi tidak dapat muncul dalam elemen-elemennya yang terisolir, tetapi haruslah melekat dalam suatu cara elemen-elemen itu dikombinasikan, dan punya peran potensial bagi sebuah transformasi yang melibatkan kombinasi seperti ini. Bahasa di dalam mitos memperlihatkan ciri khasnya yang spesifik: ia menguasai tataran linguistik biasa.
Apa yang ingin coba ditangkap Levis-Strauss di sini adalah sense tentang adanya interaksi antara dimensi sinkronik dan diakronik, antara langue dan parole dalam mitos, sesuatu yang lebih dari sekadar kisah yang sedang diceritakan. Sebuah mitos selalu mengandung keseluruhan versinya, dan ia mengatakan bahwa mitos itu bekerja secara simultan pada dua sumbu, seperti halnya dalam partitur orkestral, untuk membangkitkan paduan nada dan harmoni. Di sisi lain, Levis-Strauss percaya bahwa ia telah menemukan sebuah metode analisis yang melengkapi aturan-aturan formasi, untuk memahami perpindahan dari satu varian mitos ke varian yang lain. Dalam prosesnya, agen-agen mediasi dan validasi bekerja mengatasi realitas kasar dan mentransformasikannya ke dalam bahasanya sendiri. Di sini, mitos muncul sebagai sebuah “perangkat-logika” yang berfungsi menciptakan ritus-perbatasan untuk mengatasi realitas yang saling beroposisi.
Pada titik inilah usaha Levis-Strauss untuk menemukan aspek langue mitos dan memisahkannya dari parole dengan melakukan analisis fonemik atasnya mencapai batas-batas terjauh dalam memahami bagaimana mitos dikonstruksi oleh masyarakat lampau. Tetapi Levis-Strauss terpukau dan berhenti di tingkat struktur yang secara rigid (kaku) memisahkan antara langue dengan parole sedemikian sehingga, baginya, di balik struktur tak ada apapun lagi. Kenyataan bahwa banyak mitos di dunia sangat mirip disimpulkannya dengan sederhana disebabkan oleh adanya aturan-aturan transformasi arbitrer yang menciptakan varian mitos. Kearbitreran ini dimungkinkan karena, bagi Levis-Strauss, satu-satunya yang kokoh hanyalah mode-mode operasi yang bekerja di dalam struktur. Pemeriksaannya terhadap langue mitos tidak membuka gagasan lebih jauh mengapa muncul ragam-ragam yang unik padanya. Padahal struktur mitos hanyalah penjelasan bahwa ia adalah “bahasa khusus” yang mesti dicari logos di balik langue-nya.
Dalam sebuah mitos suku-suku di Amerika Utara yang mengisahkan tentang Angin Selatan yang jahat karena begitu kencang dan dingin sehingga bila angin ini berhembus manusia tidak dapat beraktivitas secara normal. Demikianlah hingga semua makhluk hidup berusaha menangkap dan menjinakkannya. Pemburu yang berhasil adalah ikan skate yang kemudian menegosiasikan pembebasan angin dengan syarat bahwa ia diijinkan untuk berhembus hanya pada hari-hari tertentu secara berganti-ganti, sehingga meninggalkan daerah itu pada saat manusia dapat bepergian normal. Levis-Strauss menskemakan mitos tersebut dengan oposisi biner antara alam yang ramah terhadap manusia dengan alam yang bermusuhan, yaitu kehadiran angin dan ketidakhadiran angin, dan melihat aspek yang sama terhadap ikan skate pada posisi manusia memandang ikan tersebut, yaitu bila dilihat dari samping ia seperti segaris pipih yang nyaris tiada sedangkan dari atas tampak sangat besar. Ia menyatakan bahwa ketika orang Indian menjadikan ikan, skate sebagai “tokoh pendamai” pada masa transisi kedua kondisi alam tersebut sesungguhnya mereka tengah mengkonkretkan peranan mereka dalam menata alam. Logika konkrit ini dalam pandangan Levis-Strauss menunjukkan demikian mudahnya masyarakat lampau menetapkan suatu kesamaan antara spesies-spesies alam dengan segolongan masyarakat. Dan mendeskripsikan bahwa pada masyarakat dahulu, begitu tinggi penghargaannya terhadap alam. Mereka mencari narasi tersebut dalam struktur tersembunyi. Kelihatannya, strukturalis dan semiotik amat sulit dijabarkan sehingga begitu sulit untuk dianalisa lansung tanpa penelaahan yang teliti.
*Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu (FLI),Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Sastra dan Waka II MPM KM UNAND/ DPM KM UNAND periode 2007/2008.
Dimuat di Riau Pos 2007
यांग dimuat
KOTAK KECIL BEREFEK SAMPING
Oleh: Elsya Crownia*
Sinema elektronik, yang dikenal juga sinetron. Digrandrungi khalayak masyarakat mulai dari orang tua, anak-anak, dan pembantu rumah tangga. Menuru pengama televisi, gambaran umum pertelevisian Indonesia yang kerap kali mengumbar pusar, dada, dan paha. Tentu saja, tayangan tersebut akan berdampak negatif bagi perkembangan moralitas bangsa.
Kenyataannya, televisi Indonesia diera Reformasi makin bebas dan vulgar. Dari segi budaya, sinetron Indonesia yang menggambarkan budaya yang diimitasikan dari gaya hidup para remaja Indonesia. Saking banyaknya tayangan prime time (baca: tayangan utama) yang menggumbar kisah-kisah roman picisan, kebengisan, penindasan, dan kekerasan. Hal tersebut akan mengakibatkan efek negatif terhadap siapa yang menonton, dan menggunakan televisi sebagai media hiburan.
Namun, kadang tidak terpikirkan oleh kita bahwa televisi perlahan-lahan menjajah ideologi, menjajah budaya kita. Teramat menyakitkan, ternyata penjajahan itu belum usai bahkan gencarnya media untuk menjajah bangsa sendiri dan bangga dibodohi oleh tayangan yang sifatnya omong kosong. Ujung-ujungnya, akan berakhir pada punahnya budaya yang sering diagung-agungkan. Media televisi sebagai peralaihan budaya masyarakat misalnya hanya orang kaya, menonjolkan kekayaan, gaya hidup yang berlebihan yang penuh intrik dan konflik. Disamping itu, tayangan anak-anak tidak sesuai dengan dunia anak-anak tetapi justru menampilkan vulgaritas. Psikologi menjelaskan bahwa kepolosan anak-anak yang dengan mudah menerima apa pun dari dunia luar. Kehidupan anak-anak dengan keceriaan mereka pun kerap dintimidasi dengan tayangan orang-orang dewasa misalnya sinchan, chibi maruko chan, dan lain sebagainya. Hal tersebut cendrung membuat anak-anak lupa waktu, dan menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar. Ironis, bila televisi kita hanya terobsesi dengan rating daripada memperhitungkan dampak negatif dari apa yang ditayangkan. Tayangan mendidik dihilangkan dari televisi, apabila masyarakat mengkritik pun hanya sekali ditanggapi dan kemudian hilang.
Begitu besarnya pengaruh televisi dalam peradaban manusia, sehingga menciptakan generasi yang malas baca. Mutu Indonesia pun rendah hanya karena dampak dari tayangan yang memprioritaskan rating. Omong kosong, bangsa ini akan bangkit sementara bangsa sendiri menjajah rakyat sendiri. Berkurangnya tayangan yang bersifat ilmiah bagi anak-anak, remaja, pelajar, dan mahasiswa yang kehausan dengan ilmu pengetahuan. Negeri amat sangat membutuhkan dukungan untuk berkreativitas, dan demi kemajuan bangsa.
Pemerintah yang kerap kali memikirkan perbaikan ekonomi malahan lebih mengeyampingkan moralitas bangsa yang mengalami dekadensi moral.Raam Punjabi sendiri mengungkapkan, bahwa keseluruhan tayangan sinetron mencerminkan prilaku dan budaya masyarakat Indonesia yang terlalu polos menerima kebudayaan. Sementara, PH ( production house) seperti Multivision Plus, Sinemart, Indigo Entertainment mengacuhkan dampak bagi masyarakat, tetapi mengutamakan rating dan iklan yang sering membodohi.
Kenyataannya kini, pemujaan terhadap kesenangan duniawi (hedonis) merambah masyarakat. Kehidupan para selebritis yang dijadikan teladan itu hanya “omong kosong”. Ikon dan trademark adalah suatu keharusan bagi mereka. Lantas, masyarakat menengah bawah yang kurang analisanya, menjadi korban dunia maya tanpa perhitungan.
Dampak Negatif Bagi masyarakat
Media audio-visual sebagai media budaya dan sosial masyarakat, yang hanya cendrung mengutamakan hiburan dan penghilang stres. Disisi lain, televisi juga menimbulkan efek samping yang berdampak pada perkembangan prilaku sosial masyarakat mulai dari tingkat menengah bawah hingga kalangan menengah atas. Sehingga, kita akan terkejut menemukan para remaja, dan generasi muda bergeser budaya.
Menurut buku “Sex, Violence, and the media” ada lima tingkatan yang dapat mengubah prilaku penikmat tayangan televisi yaitu imitasi, identifikasi, runtuhnya rem pengaman, stimulasi, khatarsis. Hal tersebut menjelaskan bahwa seseorang akan dengan mudah terpengaruh dengan televisi yang menayangkan sinetron. Mereka akan melihat dan memperhatikan sang bintang dan selanjutnya akan menuju tahap imitasi budaya misalnya, meniru model pakaian, mencat rambut, dan mengimpikan sesuatu yang sulit untuk diraih.
Pertama, idenifikasi dalam tayangan televisi dimaksudkn agar sipenonton tidak meniru dari keseluruhan penampilan yang berujung meniru penampilan sang idola.
Memang, manusia diberi anugerah yaiu rem pengaman tertanam dalam dirinya misalnya, nilai tradisi, norma-norma, ajaran agama dari orang tua, guru, dan lain sebagainya.Apabila rem pengaman itu tidak berfungsi lagi maka akan berlanjut pada tingkatan khatarsis, artinya para penonton akan lansung meniru dan meluapkan pada tingkah laku 4S ( sadis, satanis, seks, selebritas).
Dalam makalah penelitian mahasiswa Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta menyatakan bahwa dampak dari penayangan hiburan atau infotaiment, intertainment, dan sinetron oleh berbagai perusahaan-perusahaan, umumnya setting sinetron berada di Jakarta. Namun, konsekwensi pada cara pandang dan pemikiran masyarakat luas terutama generasi muda yang sering meniru mode pakaian yang terbaru dan trendi sehingga dengan sendirinya akan mengacuhkan kebudayaan lokal dan tradisi masyarakat. Malahan, para remaja cendrung mengandrungi versi gaul dalam berbahasa Indonesia dan melupakan bahasa ibu.
Disamping itu, mereka akan malas untuk bekerja keras, dan menganut tradisi instan. Para orang tuapun ikut mengeluh dengan sikap dan tingkah laku anak-anaknya. Dan disekolah pun akan tertanam budaya baru yaitu prilaku siswa yang mengenakan baju seragam ketat, rambut dicat warna warni, telinga ditindik ( Nova, Edisi 990, 2007).
Kenyataannya, semakin banyak media televisi yang mengudara sehingga akan mempermudah pihak asing melancarkan usaha untuk menjajah dan membodohi bangsa. Informasi-informasi yang dikemas tidak mendidik dan bahkan semakin meluas. Sementara orang-orang elit di perusahaan pertelevisian hanya berlindung dibalik kata “ tayangkan sajalah, penonton kita kan bodoh” sehingga tayangan itu akan dengan mudah diterima oleh masyarakat luas.Memang benar, tayangan televisi kita beragam tetapi, apakah pantas menyajikan tayangan yang mengakibatkan dangkalnya moralitas, dan dangkalnya memahami makna. Manusia dengan sendirinya akan malas untuk berpikir dan menyikapi seluruh peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
Saking banyaknya media massa yang cendrung memberitakan kasus-kasus berupa pelecehan seksual, tindakan kekerasan terhadap anak-anak (child abuse). Sehingga, masyarakat bingung untuk memilih pantas tidaknya tayangan tersebut. Intinya, televisi memberikan kesempatan luas dalam menyebarkan budaya asing dan akan terjadi akulturasi dengan budaya lokal.
Memang tak dinyana, dengan canggihnya teknologi dan mudahnya menerima informasi maka masyarakat akan memilih untuk tinggal pada komunitas lokal atau komunitas budaya popular yang muncul diantara generasi muda. Pantas, bila pengaruh budaya dan kebudayaan domestik akan mengandalkan media massa untuk mencapai kepuasan tanpa memikirkan dampak psikologi masayarakat.
Berdasarkan teori media, terdapat dua teori yang saling berseberangan satu dengan lainnya yaitu teori “pengaruh kuat” seperti teori peluru (bullet theory) yang ditimbulkan pada khalayak pasif sedangkan teori “ pengaruh minimal” yang diuraikan dalam uses dan grafiation theory yang terfokus pada khalayak akif. Frank Biocca dalam artikelnya yang berjudul “Opposing of the Audience: The active and Passive Hemisphere of Communication Theory “(1998), mengakui bahwa ada perdebatan antara khalayak aktif dan khalayak pasif, sehingga ditemukan tipologi dari khalayak aktif. Yang disebabkan oleh beberapa pertama, selektifitas (selectivity) maksudnya, khalayak aktif dianggap selektif dalam proses komsumsi media yang mereka pilih untuk digunakan. Mereka tidak asal-asalan dalam mengkomsumsi media tetapi hal tersebut hanya digunakan untuk tujuan tertentu. Misalnya, kalangan Bisnis akan menyaring informasi dari Harian Bisnis Indonesia agar mengetahui perkembangan dunia bisnis, penggemar olah raga akan mencari Tabloid Olah Raga, untuk mendapatkan hasil pertandingan olah raga.
Kedua, utilitarianisme (utiliarianism) artinya khalayak aktif hanya mengkomsumsi media hanya untuk kepentingan tertentu yang mereka miliki. Ketiga, intensionalitas (intentionality), maksudnya penggunaan media tergantung pada isi media. Keempat, keikutsertaan(involvement), dengan kata lain usaha yang dimaksudkan agar khalayak ramai senantiasa berpikir, mengapa harus mengkomsumsi media. Kelima, khalayak aktif dipercaya sebagai komunitas yang mempunyai daya tahan dalam menghadapi media (imprevious to influence) atau tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri ( Little Jhon, 1996:333).
Namun, khalayak yang terdidik (educated people) cendrung memilih bagian dari khalayak aktif, karena mereka bisa memilih media yang mana akan dikomsumsi sesuai dengan kebutuhan mereka.Begitu besarnya pengaruh dunia informasi dan teknologi yang dapat mengubah budaya, pola pikir masyarakat yang tidak berujung pada perbaikan moral. Media massa janganlah menjadi pembunuh moral dan penghancur moralitas bangsa. Ajaib, jika bangsa sendiri bangga memperbodoh masyarakatnya.
Elsya Crownia, Mahasiswi Sastra Inggris, tergabung dalam FLI dan LPK Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Thursday, April 10, 2008
Jadi
Dia sadar, dibawah alam kesadarannya, masih ada tertanam rasa iba meskipun panas membara, amarah bercengkrama, dia hanya mampu mengikuti alun-alun hati dirongga jiwanya yang sunyi dan hampa
Bertutur kata pada bawah sadar, otak kanan otak kiri dipenuhi pikiran buntu
Tak kuasa hadapi mimpi-mimpi]
Atau ketentaraman akan belahan jiwa
Ya, dia sendiri hanya berkata dalam sunyi
Dan derap-derap langkah mengerikan
Sesungguhnya ia nanti
Tak mampu hadapi
Api itu
Seperti kutukan atau kesejukan
Dia tidak tahu lagi
????????????
Lagi Dia Menahan Nafas Kehidupan
Walau hatinya luluh
Dia tidak berkata
Hatinya meronta
Arti
Jujur
Bohong
Apalah
Kata-kata
Menusuk hati
Dia
Hanya sunyi
Tanpa bunyi
Tanpa perkusi
Senar gitar
Rusak
Dan
Bunyi
false
Anak zaman
Anak zaman
Berlari
Mengejar mimpi
Matahari
Menjadi atap
Berdermaga dalam keras
Dan kerasnya
Hidup
Diam
Dan berlari diantara
Macetnya udara
Bau asap kendaraan
Materialistis
Kapitalis
Memperjuangkan
Semua
Meraih mimpi
Tertunda oleh raksasa
Menelan jiwa
Mentari tersenyumlah
Mentari tersenyumlah
Pada kezaliman
Itu
Diantara
Panas api
Itu
Air
Padamkanlah
Agar ksatria
Itu paham
Arti
Duri
Debu
Dan
Melodi
Beriramalah
Dengan senandung seriosa
Dan
Bethoven
Mozart
Kitaro
Penyimbang
Penenang
Asmaul husna
Menetramkan
Kalut
Jalut
Runtut
Luluh redam
Berkobarlah
Api
Untuk jiwa sepi
Berteriaklah
Katakanlah
Satu kata
jeda
Arti belahan jiwa
Dan ia hanya tertunduk diam
Entah apa
Terpikirkan
Dibenaknya
Apa dia merasakan rasa
Atau dia kehilangan rasa
Jiwa
Yang dahulu mekar
Apa yang ada dibenaknya
Apa dia hanya diam
Dia hanya tahu
Alam bawah sadar
Bercerita padanya
Seperti bicara
Pada air, semut, burung
Alam
Hanya bersenandung
Dan
Menyejukkan hatinya
Dengan hujan
Rintik-rintik
Mendung
Kabut