Sunday, January 6, 2008

कुम्पुलाn

Seni & Budaya

Minggu, 19 Februari 2006

Yeats

Mitologi adalah satu sumber ilham terbesar puisi, dan puisi modern bukanlah perkecualian. Memang, tak sedikit penyair modern yang menganggap masa silam sebagai semacam kungkung dan karena itu berusaha lepas darinya. Tetapi tak kurang pula jumlah mereka yang mencoba menggali peninggalan lama dan menampilkannya kembali dalam wujud baru. William Butler Yeats (1865-1939) adalah salah satu tokoh utamanya. Mitologi Keltik Irlandia, Yunani, maupun ”mitologi universal” (yang sesungguhnya sangat personal) yang ia coba gali dari palung bawah-sadar, ia serap dan olah kembali dengan beragam jalan dalam sajak-sajaknya.

Di awal karier literernya, Yeats adalah seorang penyair ”romantik akhir” yang menggubah sajak-sajak merdu yang terpesona oleh alam negeri kelahiran, keajaiban dan manis-getirnya cinta, pelbagai legenda dari moyangnya sendiri maupun dari anak benua jauh, serta dunia para mambang dan peri. Setidaknya sejak terbitnya kumpulan lirik Crossways dan puisi naratif dramatik The Wanderings of Oisin pada tahun 1889 hingga In the Seven Woods (1904), watak romantik itu cukup menonjol. Tetapi sesuatu kemudian terjadi.

Pada tahun 1908, datang seorang pemuda Amerika berumur 23 bernama Ezra Pound, yang mengatakan berniat ”belajar menulis puisi” dari Yeats—”satu-satunya penyair yang layak dipelajari sungguh-sungguh”, dalam kata-kata Pound kala itu. Anak muda itu kemudian bekerja sebagai sekretaris pribadi si penyair Irlandia. Mereka pun banyak bertukar pikiran, dan entah siapa di antara mereka yang kemudian lebih banyak ”belajar menulis puisi”. Yang jelas, sajak-sajak Yeats yang terbit di masa itu, yakni The Green Helmet and Other Poems (1910) dan Responsibilities (1914), menunjukkan perubahan ke arah puisi yang kian padat, menatap lekat dunia sehari-hari, serta lebih bebas memainkan rima ataupun irama—sebagaimana dikedepankan oleh Pound bersama kaum imajis di London lewat sejumlah manifesto mereka.

Kelak, ketika ia kembali mengolah tema-tema mitologis melalui tokoh-tokoh dalam folklor Irlandia maupun dari khazanah lain, sensibilitas modern itu sudah meresap ke dalam watak puisinya. Hasilnya adalah larik-larik yang ketat dan bernas sebagai aforisme, dan tentu saja di kemudian hari kerap dikutip orang. Things fall apart; the centre cannot hold;/ Mere anarchy is loosed upon the world. Atau O body swayed to music, O brightening glance,/ How can we know the dancer from the dance? Begitu juga bait yang akhirnya menjadi epitaf di makamnya di Sligo County, Irlandia: Cast a cold eye/ On life, on death./ Horseman, pass by! Dalam sebuah sajaknya, ia pernah mengatakan ingin menulis puisi yang ”dingin dan penuh gelora, seperti fajar”.

Sajak ”Leda and the Swan”—yang termuat dalam kumpulan The Tower (1928), dan barangkali sajak Yeats yang paling sering masuk dalam antologi puisi modern—memperlihatkan bagaimana sebuah sajak bisa menjadi ”dingin dan penuh gelora” sekaligus. Berkisah tentang Leda, istri Raja Tyndareus dari Sparta, yang suatu hari diperkosa oleh seekor angsa (jelmaan Dewa Zeus yang jatuh cinta pada manusia jelita itu), sajak berbentuk soneta itu menggambarkan adegan aneh dan mengerikan itu dengan tatapan yang seakan tak berkedip sedetik pun. Bagaimana ”sayap besar” angsa mengepak di atas ”gadis yang gemetar”, lalu ”kelebat putih” dan ”geletar pada panggul” yang kelak ternyata mengakibatkan perang besar, ”dinding rengkah, atap terbakar”. Sebab terjadilah di sana pembuahan, dan salah satu anak yang lahir kemudian dikenal dengan nama Helena dari Troya. Sajak ini tentu mudah menimbulkan kontroversi. Tetapi memerikan sebuah dongeng tua tentang pemerkosaan yang ganjil dengan jenih dan hidup tidaklah bisa disamakan dengan membenarkan hal itu. Barangkali Yeats justru hendak menekankan betapa sesuatu yang bermula dari kekerasan hanya akan berujung pada kekerasan lain, peperangan, dan kehancuran.

Dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel Sastra yang diberikan kepadanya pada tahun 1923, Yeats menyebut dengan anggukan takzim bagaimana sejumlah penulis di negerinya (di tengah kecamuk perang yang berlarat-larat) bertahun-tahun bergulat melepaskan diri dari ”provinsialisme”. Bersama mereka ia membebaskan diri dari wawasan yang sempit dan merengkuh pelbagai khazanah yang lebih luas, demi melihat kemungkinan penciptaan yang jauh melintasi batas-batas.

HASIF AMINI

Filed under: blog of narcist — inverno @ 9:08 am

The NarCists

Cool... Narcissist berasal dari mitologi yunani kuno tentang seorang pemuda tampan bernama Narcissus yang kelebihan PD, dia sangat mengagumi ketampanannya, sehingga dia menjadi sombong. Melihat hal ini dewi Nemesis marah, dia pun mengutuk Narcissus.

Di suatu hari yang cerah, Narcissus melewati sebuah mata air yang teramat jernih nan indah. Nah di pantulan ata air itulah, Narcissus berdiri mematung menatap dan mengagumi wajahnya yang tampan. Sampai akhir hayatnya dia tidak bisa mencintai siapapun selain dirinya sendiri.

Begitu kurang lebih cerita tentang asal mula narcissist, lo boleh cari di semua literature, maka lo akan menemukan data yang sama tentang legenda narcissist ini.Nah, kalo ingin mengkaji lebih jauh, sebenernya kepribadian narcissist itu kaya apa sih?

Yang pertama dan yang paling penting, dia sangat mengagumi dirinya sendiri, itu harus, karena lo ga akan pernah bisa menjadi narcissist tanpa pernah mengetahui betapa indahnya diri lo.

Tapi seorang narcissist sejati sebenarnya memiliki kepribadian yang rapuh, jadi jangan dilihat dari betapa senangnya dia mendapat perhatian dari orang lain, karena kalau sampai narcissist akut, itu bahaya.

Seorang narcissist cenderung memiliki sifat egois, tapi seorang egoistis belum tentu narcissist. Disinilah letak perbedaannya, lo boleh liat temen ato kerabat lo yang menurut lo egois, dia belum tentu narcissist, paling tidak narcissist senang menjadi pusat perhatian, dia besar karena pujian, dan butuh pengakuan dari orang lain untuk menimbulkan rasa percaya dirinya.

Narcissist sangat sensitive pada kritik, bukan karena kritik membangun yang dapat membuatya terpacu untuk instropeksi diri, tapi justru kritikan itu merupakan cerminan kekurangan dirinya, bahwa dia merasa selama ini ‘perfect’ tidak heran, kalo sedikit kritikan akan membuatnya ‘down’.Sebagai contoh, kalo orang normal dikritik pasti dia akan cepat-cepat instropeksi, atau paling tidak secara sopannya akan mengucapkan terima kasih karena sudah mendapat masukan.

Tapi gue sebagai mahluk narcissist yang bila menerima kritikan pasti akan merasa:“kayanya selama ini gue baik-baik aja deh, ngga ada yang salah kok dengan diri gue”, sejatinya gue akan mencari pembenaran (dukungan) dari orang lain, belum cukup, gue akan bilang: “selama gue tidak melakukan tindakan kriminal, dan tidak merugikan orang lain, kenapa juga musti pusing, repot amat, toh selama ini gue merasa puas kok dengan apa yang ada dalam diri gue, dan ga ada yang perlu gue rubah, karena gue ya begini ini,”

Narcissist menaruh perhatian berlebih pada dirinya sendiri, dia kurang sensitive/peka pada orang lain, dia (si narcissist ini) mungkin memang menyadari kehadiran orang-orang di sekitarnya, tapi dia tidak akan peduli dengan orang lain, kecuali dengan urusan yang menyangkut dirinya.

Bisa dibilang, itulah yang terjadi pada diri gue, mungkin bisa dibilang gue ini cewe cermin, yang ngga bisa jalan tanpa berhenti sepintas saat melihat cermin, atau ngga bisa pergi kemana-mana tanpa membawa cermin.Itu bukan sifat cewe lho, tapi gejala narcissist..! Dimana gue selalu ingin menjadi pusat perhatian orang dengan aksesoris yang gue kenakan, semata-mata adalah untuk kepuasan pribadi, bahwa di mata orang lain gue terlihat cantik, modis, feminin, anggun dan bergaya elegan. Tidak cukup cuma itu, gue memerlukan pujian sebagai pengakuan dari orang lain bahwa gue memang cantik dan menarik,, :p, tanpa peduli bahwa pujian itu tulus gue udah cukup puas, tanpa mau bersusah payah memberikan empati atau simpati terhadap orang yang memuji gue, maka gue cuma mau mendengarkan segala-galanya tentang diri gue.

Mungkin kedengerannya egois banget yach, tapi itulah narcissist, suatu kepribadian menyimpang yang didasari rasa pemujaan berlebih terhadap diri sendiri.

Maka bisa dimaklumi bila cinta gue pada seseorang adalah cinta yang narcissist, dimana gue mengharapkan dia selalu mengorbankan dirinya demi gue tanpa mau memberikan efek timbal balik yang sama sebagai bentuk rasa kasih sayang yang setara.

Tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang gue lakukan karena ingin mendapat pujian/penghargaan/pengakuan dari orang lain, dan disinilah sifat narcissist gue ini muncul, dimana gue merasa bangga bukan main pada diri gue sendiri.

Tapi memang segala sesuatu di dunia tidak ada yang sempurna, gue tau, sebagai manusia biasa gue juga ga luput dari kelebihan dan kekurangan, nah meskipun gue menyadari sebagian kekurangan gue ini, tetep aja gue berdalih:”please dech, secara gue narcissist gitu loohh, ga penting banget dech dipikirin, biarpun seluruh dunia penuh dengan orang cantik, pintar, jenius dan hebat, tapi tetap gue punya dunia sendiri yang mencerminkan gue-lah yang paling hebat.”Sekali lagi ya, itu bukan sombong, arogan atau angkuh, tapi gejala narcissist setengah akut, karena biar gimanapun juga, gue masih tetep punya sifat tenggang rasa, sosialisasi dengan orang, sedikit rasa empati dan simpati, walaupun ujung-ujungnya ya narcissist juga.. hehehe,,,:p

Tapi mungkin walaupun gue mulai mengurangi sifat narcissist ini, tetep main hitung-hitungan juga. Misalnya, secara sadar gue tau bahwa dalam hidup bermasyarakat yang profesional kita harus saling mengisi dan membantu, pada intinya, gue memang selalu berusaha mengambil sikap yang manis, atau bisa dibilang, ber-empati pada orang lain, tidak selalu memikirkan diri sendiri, tapi tetap didasari sifat narcissist yang ingin ”feedback” (timbal balik) yang setara-sejajar bila gue melakukan kebaikan pada seseorang, dimana gue mengharapkan keuntungan secara narcissist, ”you take it or leave it” segala sesuatu itu ada harganya.

Sekarang yang ada pada diri gue hanyalah rasa kagum dan pemujaan setinggi langit terhadap betapa indahnya anugrah Tuhan yang diberikan kepada gue, dan bila orang memuji gue, maka gue masih tanpa sungkan berkata:”ya secara emang gue cerdas sich..”

Hanya sebatas itu, gue tetap bisa diskusi serius tanpa harus membanggakan diri gue sendiri, gue punya rasa percaya diri tinggi, berawal dari sifat narcissist yang over PD, paling tidak gue sudah mulai memperhatikan orang lain di sekitar gue.

Betapa mulianya diriku ini ya, memperhatikan orang..??Dulu si… boro-boro… huahahaha,,, :p Tapi yang jelas gue tetep anak manis yang selalu ceria setiap saat, perhatian pada orang lain, baik hati, namun karena narcissist yaa,,, sombong dikiiit la-ya, dan gue sangat easy-going.

Terkadang sifat narcissist gue muncul jadi stadium 3, bila gue ketemu orang yang karakternya lebih lemah dari gue, dengan kata lain dia ini mudah dimanipulasi, pasrah, sementara gue bersifat terlalu dominan.

Tapi gue terkadang bisa juga ‘insyaf’, bila mengingat Allah yang maha Esa nan Agung dan tiada tandingannya di dunia ini.Beneran loch, ini bukan narcissist, gue juga seringan insyaf-nya, menjadi pemerhati & pengamat masalah sosial ketimbang diri gue sendiri.Gue ga pernah membenci orang lain secara khusus, semua pasti diterima dengan baik menjadi teman gue, asal lo tahan aja ngadepin gue,,, hahahahaha,,, ^0^

Comments (2)



No comments: