Gosip Candu, Candu Bergosip
Oleh: Elsya Crownia*
Masyarakat Indonesia saat ini gandrung menonton acara gosip di Televisi. Hampir setiap hari ada tayangan gosip dari berbagai televisi swasta. Hal ini menyebabkan gosip dijadikan sebuah hobi. Meski banyak orang yang tidak menyukai kegiatan ngomongin orang, tidak dapat dipungkiri kegiatan ini telah menjadi ritual, khususnya bagi kaum wanita.
Memang, kita tidak dapat mengelak dari kenyataan bahwa Televisi swasta banyak menyajikan acara gosing antara lain; Hot Shot ( SCTV), Insert ( Trans TV), I-gosip ( Trans 7), Kiss ( Indosiar), Silet (RCTI), dan Go Show ( TPI). Rata-rata masyarakat kita ada yang mengandrungi acara Insert dan Silet. Kenapa lebih gandrung dengan acara tersebut?. Di lihat dari jam tayangnya, kedua acara tersebut berdurasi satu jam dan lebih jelas. Disamping itu, masyarakat yang menyukai acara gosip bertutur bahwa acara gosip kemasannya lebih ringan dibandingkan dengan acara bersifat politik, ekonomi atau topik yang humanis ( Oprah Wenfrey Show).
Menurut Psikolog Elly Risman, pada dasarnya memang sudah ada pada diri manusia. Bahwa manusia memiliki rasa keingin tahuan terhadap orang lain. Jika dilihat dari segi sosial, jika manusia tidak mampu menghadapi situasi yang tidak jelas. Maka, mereka akan melepaskan masalah pada orang lain.
Rumor berawal dari prasangka atau keingin tahuan terhadap urusan orang lain. Jika kita penasaran, maka kita akan mengelindingnya pada urusan lain. Misalnya, apabila kita penasaran terhadap rumah tangga si A, maka kita akan mengelindingnya ke si B. Kalau terus dibahas, maka masalahnya akan semakin besar. Apalagi jika telah melibatkan media.
Tayangan gosip dianggap sebagai bergunjing, manusia hobi menonton acara gosip karena ada rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain. Makanya dalam Islam timbul rasa was was, karenas hal ini menyebabkan orang cendrung suka bergosip. Ditambah lagi, manusia selalu digoda oleh setan, baik setan yang wujudnya jin atau manusia. Hal ini dijelaskan dengan gamblang dalam Al-qur’an surat An-Naas.
Sekarang acara gosip semakin parah, apalagi manusia memiliki kecendrungan untuk ingin tahu terhadap urusan orang lain. Nah, inilah yang dijadikan komoditas, dilihat dari segmennya, diolah sedemikian rupa sehingga, terlihat menarik, kemudian ditayangkan oleh televisi. Sudah si pembuat acara gosip tidak memiliki dasar moral dan agama. Apalagi, pemahaman agama yang kurang di masyarakat sehingga, masyarakat kita lebih menyukai acara gosip dibandingkan dengan acara yang sarat dengan informasi aktual. Kalau dihadapkanm pada kasus yang berat misalnya banjir, meningkatnya harga kebutuhan pokok, atau naiknya anggaran pendidikan. Namun, kelihatan masyarakat kita hanya bersikap tidak mau.
Apakah tayangan gosip itu menguntungkan bagi masyarakat?. Tidak sama sekali, apalagi yang diuntungkan adalah stasiun televisi yang membuat acara gosip. Tetapi, tayangan gosip mempunyai efek samping bagi masyarakat. Antara lain, tayangan gosip menyebabkan orang lebih suka bergunjing, cendrung meniru style para selebritis seperti model pakaian, gaya berpacaran, dan model rambut. Seperti yang kita ketahui, tayangan iklan dari acara tersebut menyebabkan stasiun televisi meraup keuntungan. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa gosip ibarat memakan bangkai saudara kita. Selain itu, tidak ada satu pun agama yang menganjurkan kita untuk saling bergunjing. Dan yang lebih parah lagi, masyarakat kita menjadi malas berpikir tentang hal yang berat-berat,
Rasa Ingin Tahu
Bergunjing bermula dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu adalah anugerah yang Maha Kuasa. Dari rasa ingin tahu tersebut, kita dipupuk dengan baik kearah positif. Rasa ingin tahu tersebutlah yang menyebabkan lahirnya temuan-temuan baru. Semua penemuan tersebut menyebabkan manusia dianugerahi rasa ingin tahu ini.
Nah, kalau salah, ujung-ujungnya terjadi seperti ini. Bergunjing, dijadikan sebagai komoditi untuk mencari uang. Apa yang terjadi di Indonesia ini lebih parah, dibandingkan dengan negara lain. Jadi, rasa ingin tahu tidak terlalu dibesar-besarkan, dibandingkan yang terjadi di Indonesia seperti gosip, semakin lama malah semakin dibesar-besarkan.Wanita, dituding suka bergosip karena pada wanita otak bagian kanan masih aktif sehingga, didalam situ ada urusan yang berhubungan dengan sesama manusia.
Akibat Suka Bergosip
Akibat dari bergosip banyak sekali, terutama bagi sumber gosip itu sendiri. Pertama, mereka tidak sadar akan dampak bag dirinya sendiri, terutama bagi si penggosip akan berdampak terhadap pasangannya sendiri ( menggumbar aib pasangannya sendiri). Semua itu menyebabkan, orang ingin tahu terhadap keburukannya sendiri.
Kedua, ini dijadikan pembelajaran nilai yang buruk bagi masyarakat. Apa yang kita petik, misalnya ada artis yang mempunyai anak diluar nikah, atau artis terlibat perselingkuhan. Ini merupakan sosialisasi nilai bahwa penzinahan dihalalkan dalam masyarakat. Padahal, zinah adalah dosa besar dalam agama kita. Apa kita mau hal itu terjadi pada generasi muda kita?. Tidakkan, bahkan sekarang MBA ( married by accident), tidak lagi dianggap tabu dalam masyarakat kita. Bahkan, dianggap hal biasa. Hal ini pula menyebabklan kerengangan norma dan nilai religi dalam masyarakat.
Mengapa generasi kita tak punya rasa malu?. Tentu, hal ini disebabkan acara gosip menayangkan secara gamblang yang terjadi dalam kehidupan selebritis. Misalnya, foto-foto vulgar yang dianggap tabu, dengan gamblangnya selebritis klita menganggap itu bukan kesalahan dia, atau dengan kata lain ada orang yang usillah, atau seni.
Ketiga, gosip berdampak terhadap anak-anak. Bayangkan saja, anak-anak SD sudah mulai menggunjingkan teman-temannya, anak-anak SD sekarang sudah mulai pintar pacaran, dan lain sebagainya. Jelas saja, hal ini menyebabkan pergeseran moral bangsa. Belum lagi, adanya pergeseran tata nilai yang sangat merusak moral para generasi penerus. Pergeseran tata nilai ini disebabkan oleh penayangan klehidupan para selebritis yang negatif ditelevisi. Jika dibiarkan terus menerus, bisa jadi perilaku negatif dianggap sebagai hal biasa bukan tabu lagi.
Keempat, gosip menyebabkan masyarakat kita malas untuk bekerja dengan kata lain no action talk only (NATO). Dan kelima, gosip dapat dengan mudah menyulut permusuhan baik itu antara artis dengan wartawan atau si artis dengan orang terdekat mereka ( seperti orang tua, kakak, manajer atau kru ).
Cara terhindar dari tayangan gosip
Apabila kita menemukan teman yang sedang bergosip, lebih baik tinggalkan saja. Daripada ikut berdosa dan memakan bangkai sendiri, lebih baik pergi. Cara lain ialah dengan menggikuti kegiatan positif, sehingga dapat menambah wawasan dan disamping itu mengikuti kegiatan yang dapat menambah keahlian.
Epilog
Gosip kerap digandrungi oleh masyarakat kita mulai dari kalangan menengah atas, atau kelas bawah. Bahkan, tayangan gosip dijadikan budaya dalam masyarakat. Yang memacu mereka bergosip, disebabkan oleh rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain. Padahal, Gosip tidaklah membawa dampak positif bagi mereka. Lihatlah, betapa besar kalangan remaja mulai dari SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi yang terhipnotis dengan acara ini. Padahal, acara yang hanya sekedar mengemas kehidupan para selebritis tersebut hanya dijadikan sebagai komoditi untuk merauk keuntungan. Jadi, acara bergosip di televisi tidak memberikan keuntungan bagi kita, malah lebih besar kerugiannya. Oleh sebab itu, alangkah baiknya kita gunakan waktu untuk berpikir dan berkerja serta berkreativitas demi kemajuan bangsa. Tak usah pikirkan urusan para selebriti yang telah hidup mewah, lebih baik kita merancang masa depan khususnya bagi remaja, dan bagi para ibu-ibu alangkah baiknya, menghadiri acara pengajian (tetapi jangan pula bergosip) atau bertukar pikiran untuk menambah keahlian.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam Komunitas HijauMuda
No comments:
Post a Comment