PUISI
( Wawancara Dengan Rusli Marzuki Saria )
Oleh : Elsya Crownia*
Pada tanggal 20 Januari 2008, merupakan tugas pertama kami mengadakan wawancara dengan seorang penyair lokal yang berkaliber nasional dan Internasional. Dalam hasil wawancara tersebut beliau menguraikan ketika beliau menjadi salah seorang redaktur di Koran Haluan Padang, beliaua banyak menerima naskah-naskah barau. Pertama, di saat beliau membaca naskah tersebut yang mesti dilihat adalah adakah isi edukatif misalnya H.B Jassin pernah menjadi redaktur Majalah Kisah dan menerima tulisan-tulisan baru, beliau memuat salah satu dari tulisan tersebut dengan mengambil sisi edukatif dan terus memotivasi mereka dalam berkarya, agar nantinya para penulis baru menemukan inovasi baru. Selain itu beliau juga mengakumulasi lebih pada tahun 50-an para pengarang Sum-Bar yaitu ; angkatan Kisah di Indonesia sangat banyak di antaranya A.A Navis, Sadri Sidiq, dan N.H Dhini. Beliau juga memotivasi para penulis muda dengan sebuah wejangan “ Disuksi secara terus menerus, membutuhkan intensitas belajar sangat dibutuhkan, tidak hanya matematika semata”. Penulis kreatif seharusnya mampu membuat bahasa seperti Khairil Anwar yang pernah beliau baca, dalam penciptaan bahasa bagus jadi si pembaca membaca tulisan tersebut terasa asing. Posisi seorang penyair dalam mentranslet bahasa berbeda dengan para ilmiawan
Misalnya; Aku cemas dengan kecemasan
Don’t forget my love
Terlihat amat jauh berbeda sekali antara karya fiksi dengan fakta. Biasanya ini akan berhubungan dengan para wartawan dan penyair fiksi. Bahasa budaya pun membutuhkan imajinasi timpal beliau. Ragam bahasa prosa dalam koran Tempo merupakan bahasa yang dibalut fakta namun, penuturannya halus.
Bulan Sedang beringsut-ingsut
Meninggalkan puncak bukit
Jadi serius maupun tidak kita dalam menulis, tentu akan dipertanyakan. Meminjam kata dari Ernest Hemingway, bahwa menjadi seorang penulis membutuhkan 50% bakat dan 50% hasil kerja keras.Seperti anak kecil yang berbakat menulis dari kecil dan di saat dewasa dia menyukai matematika, atau melukis dan membuat syair membutuhkan intuisi yang kadang kala terlepas dari pikiran rasional, wajar karena dalam bahasa penyair lebih imajiner. Nah, kalau bergelut dalam dunia kesenian akan bergelut pula dengan pikiran rasional. Beliaun pun menuturkan bahwa hidup ini penuh misteri, adakalanya seorang lulusan pertanian mampu menjadi seorang penyair, wajar karena kita hanya menjalani kehidupan.
Dalam nasehat beliau pun menuturkan, bahwa mencari inspirasi untuk membuat tulisana dapat dilakukan melalui diskusi, berkreativifitas. Nah, di dalam diskusi tersebut tentu kita akan menemukan begitu banyak pengalaman. Di saat, penulis mengalami masa panceklik dalam berkarya bisa diibaratkan “ seorang penulis berada disuatu tempat yang sunyi ditengah keramaian, baik sunyi rohani maupun psikis, dapat dilakukan dengan membaca karya-karya orang lain untuk menambah inspirasi atau dengan sholat “
Di dalam kesunyian mencekam tersebut, kita akan dapat dengan cara intropeksi diri. Tentu kita akan bertanya-tanya pada diri kita sendiri. Memang, resiko menjadi pengarang, tidak sama dengan artis. Buktinya, beliau menyatakan bahwa dengan menjadi seorang penulis, kita bisa hidup untuk membiayai anak-anak sekolah bahkan menganjal perut pun bisa. Karena di masa seperti sekarang honor seorang penulis sangat memuaskan.
Beliau pun menuturkan, bahwa puisi beliau bersifat Impressionis artinya menangkap kesan dari puisi dengan menyalin alam (mimesis). Puisi seperti ini mempunyai banyak anakn bukan bait. Jadi, ini merupakan ciri kahas tersendiri meskipun sekilas terlihat jorok. Seperti beberapa puisi beliau memaparkan tentang kisah Edward Douwes Dekker, yang menjadi Bupati di Sumateranese ( Sumatera Tengah saat itu), saat itu orang Belanda sangat menyukainya. Yang paling mengesankan menurut beliau adalah ketika Khairil Anwar merangkai kata pada sajaknya. Beliau pun menuturkan ketika beliau merasa jenuh, mengobati rasa jenuh hanya dengan membaca dan sholat.
Beliau, juga memamaparkan tentang metode dalam penulisan puisi. Memang kelihatannya terlalu berbelit-belit, seorang pengarang besar lahir karena sering menulis diary dan seorang pengarang fiksi harus mampu menjinakkan kata-kata dengan cara menulis kata pacar, apa saja diungkapkan tetapi juga membutuhkan imajinasi yang tinggi untuk membangkitkan emosi maka, kata-kata itu pun disaring. Seorang penulis maupun penyair harus mencintai kata-kata seperti kita sedang jatuh cinta.
Pada tahun 60-an, beliau menulis sajak Parewa hanya dengan menggunakan kertas rokok. Kala itu beliau akan pergi berangkat ke Amerika tepat saat itu terjadi pemberontakan Malari. Jadi, dalam sajak tersebut juga terdapat pemberontakan akan ketidak jujuran, dan kesewenangan.
Prosa, puisi, fiksi ( rekaan) meskipun memasukkan unsur-unsur sejarah didalamnya akan tetap menjadi karya fiksi. Dalam salah satu puisi beliau berjudul “ Putri Bunga Kara “ refleksi dari pemberontakan seorang perempuan yang dipoligami dengan cara “ diam”, memang pada saat itu masyarakat Minangkabau khususnya, perempuan merasa tertekan batinnya, terenyuh jiwanya. Saat itu beliau mencoba untuk memahami seorang perempuan.
Tentang Puisi
Ada kalanya puisi memiliki karakter karena pengaruh bacaan, misalnya belajar duduk dengan Alif Ba Ta dalam sajak Aritua. Memang, beliau dalam menulis puisi berusaha untuk membebaskan diri dan tidak pernah menggunakan rima. Demikian pula yang ditemukan pada penyair-penyair muda sekarang akan terbaca keberadaan simbol dan metafora.
Penyair Amerika pun demikian, setiap penyair punya kelebihan dan juga mempunyai tangung jawab moral terhadap pembacanya. Disampin membutuhkan petualangan pikiran , rohani dan jasmani. Maka, penyair dapat belajar dan tidak bisa dicapai seolah mampu untuk didekati.
Pesan Untuk Para Penulis Muda
Menjadi seorang pengarang pada masa sekarang dapat hidup tanpa memahami filsafat. Timbulnya karya-karya besar bukan karena keterikatannya tetapi dibebaskan oleh kreatifitas. Lahirnya banyak komunitas tidak hanya sekedar trend semata, tetapi kita benar-benar serius untuk menjalaninya terutama dalam berkarya. Kalau ditilik, zaman sekarang orang tidak berpikir tentang selera masyarakat misalnya N.H Dhini menulis berdasarkan pengalamannya.
Latar belakang seorang pengarang sepert J. K Rowling yang terkenal dengan Harry Potter yang memberikan keluarga bagi Harry yang yatim piatu. Hal tersebut merupakan refleksi dari rasa sepi Jeane dalam membesarkan putrinya sendirian tanpa suami atau Uncle Tom Scebing yang mempengaruhi keadaan atau perang saudara antara Amerika Utara dan Selatan. Demikian pula Oprah yang cendrung pro pada masyarakat Amerika berkulit hitam, orang Afrika yang miskin. Hal tersebut melatar belakangi karena ayahnya seorang serdadu Amerika yang tinggal di Vietnam. Jadi, latar belakang seseorang sangat mempengaruhi karyanya.
Menjadi seorang pengarang yang menulis berdasarkan apa yang ia pahami demikain pula novelis tidak cukup dengan dirinya tetapi dia juga akan melakukan studi pustaka, mengkaji keadaan masyarakat atau dengan menyadur dari pengalaman orang lain. Hal ini akan mempengaruhi intensitas, mood, dan pengalaman bacaan.Metafora tak hanya ditemukan dalam puisi semata, Al Qur’an pun memiliki metafora.
***HijauMuda, 20 Januari 2008
Monday, February 18, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment