Sunday, February 24, 2008

puisi

Melodrama Kehidupan (1)

I
Seorang pengembara
Membayangkan hidup
Antara nyata dan maya
Tak berkata pada siapa
Hanya, bicara pada angin
Tersenyum pada rembulan
Dan membayangkan keberadaan
Dunia,

II
Kisah pun dimulai
Menyusuri pemukiman hijau
Mencari seuntas benang
Untuk hidup
Namun, tak lepas
Dari berang dan mangsa kehidupan
Dia terlalu naïf,
Tetapi, pasif
Akan keangkara murkaan
Dia hanya bicara pada kertas buram
Kosong….
Tak peduli, hadapi mangsa sekalipun
Dia harus mati, tanpa arti
Apa yang tersirat dihatinya?
Ya, hanya nyanyian hembusan angin
Dan serigala menerkam
Dia diam
Saat ular melilit tubuhnya dengan erat
Dia tak mendesah
Apa yang terpikirkan dalam benaknya?
Kematian, kesunyian
Atau suatu pertanyaan yang lenyap dalam sunyi
Oh, malang nian
Engkau pengembara

III
Mengapa suara-suara itu tak kau dengar
Kenapa kau hanya terhanyut dalam nestapa
Tanpa arti,
Kau hidup dihutan belantara
Yang penuh keangkuhan
Dan angkara murka

IV
Dengarlah!
Kau hidup dengan kenestapaan
Diantara hati yang penuh keangkuhan
Kau terjepit, pengembara
Dan tak ada cara untuk
Menghapus murka

V
Dengar!
Darimana kau mendapatkan
Sebongkah emas?
Sedangkan pun tiada

Sekarang,
Pergilah…
Dan datanglah lagi
Dengan upeti
Kata sang Raja.


Padang, 25 Februari 2008

No comments: