Bumiku Sayang, Bumiku Malang
Oleh Elsya Crownia*
Dosa siapa, ini dosa siapa
Salah siapa, ini salah siapa
(Ebiet G Ade)
Begitulah yang kita rasakan dinegeri ini. Bencana alam berulang kali melanda bangsa ini. Ekosistem pun terancam, kehidupan pun seakan-akan musnah dari peradaban. Memang, tak bias kita pungkiri bencana hadir dalam kehidupan akibat ulah tangan manusia. Bumi yang hijau nan indah, kini berubah hitam pekat oleh asap kendaraan, efek rumah kaca, dibangunannya pusat industri sehingga, tak kita temukan lagi keindahan.Bencana demi bencana menghampiri negeri ini. Entah, alam mulai marah dengan kecongkakan dan kesombongan manusia yang mematikan peradaban. Peradaban pun tumbuh berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan manusia. fek rumah kaca yang memicu pemanasan global menjadi sorotan tajam semua negara. Padahal di zaman purba, efek rumah kaca justru memicu munculnya kehidupan yang beragam..Para pakar iklim mengkhawatirkan, jika terjadi pemanasan global akan terjadi bencana hebat yang amat merugikan umat manusia. Para pakar iklim merisaukan, meningkatnya suhu Bumi beberapa derajat Celsius dari suhu rata-rata sekarang ini, akan mencairkan lapisan es di kedua kutub. Dampaknya muka air laut akan naik beberapa meter. Hal ini akan mengakibatkan musnahnya negara-negara kepulauan kecil atau negara yang ketinggiannya sejajar dengan permukaan laut. Tetapi betulkah pemanasan global selalu berdampak negatif?Ternyata sejarah iklim Bumi menunjukkan, efek rumah kaca dan pemanasan global justru memicu munculnya kehidupan. Kajian paleo-klima, yakni iklim di zaman purba menunjukkan, sejak 4,3 milyar tahun lalu di Bumi sudah diproduksi gas rumah kaca alami, terutama methan dan karbon-dioksida. Hal ini menyebabkan efek rumah kaca yang menghangatkan suhu Bumi, menjadi rata-rata 15 derajat Celsius. Jika tidak ada pemanasan global, suhu Bumi ketika itu diperkirakan rata-rata minus 18 derajat Celsius, karena intensitas energi matahari pada awal pembentukan Bumi, hanya 70 persen dari intensitasnya sekarang. Para pakar paleo-klima bertanya, gas rumah kaca alami apa yang menyebabkan efek rumah kaca itu? Mula-mula diduga gas rumah kaca karbondioksida dari aktivitas gunung api, yang menyebabkan efekr rumah kaca purba tsb. Akan tetapi, selama dua dekade para ahli terus memperdebatkan intensitasnya. Karena efek gas rumah kaca karbondioksida dari aktivitas gunung api, menurut perhitungan jauh lebih lemah dari fakta yang ada. Barulah pada tahun 1995 lalu, kelompok peneliti dari Universitas Harvard di Cambridge-Massachussets, di bawah pimpinan Prof. Dr. Rob Rye mematahkan teori karbondioksida (intermezzo).Menjaga lingkungan hidup berarti ajakan untuk memperhatikan semua ciptaan dan untuk menjamin kegiatan manusia, sambil mengolah alam, manusia tidak merusak keseimbangan dinamika yang ada di antara semua makhluk hidup yang bergantung pada tanah, udara dan air bagi keberadaannya. Isyu lingkungan hidup telah menjadi inti pemikiran sosial, politik dan ekonomi karena degradasi yang seringkali menyebabkan penderitaan kelompok miskin dari masyarakat. Resiko akibat perubahan iklim dan bertambahnya bencana alam mendorong untuk mempersoalkan kembali keyakinan masyarakat modern. Berkembangnya gap antara kaya dan miskin tidak boleh membuat orang acuh tak acuh dan mencegah penggunaan berlebihan sumber-sumber alam dan mencegah percepatan hilangnya spesies-spesies. (Cardinal Fracis Xavier Nguyen Van Thuan, Presiden Dewan Pontifikal untuk Keadilan dan Perdamaian).Pemanasan global juga merusak seluruh infrastruktur dan lingkungan hidup ikut terancam. Ada satu artikel yang menarik ketika saya membaca tentang dampak dari pemanasan global. Artikel ini ditulis berdasarkan pada hasil simulasi numerik jangka panjang tentang apa yang akan terjadi jika laju penambahan gas rumah kaca terus bertambah di atmosfer Bumi. Dalam jangka panjang, ternyata Eropa akan semakin dingin jika pemanasan global terus berlangsung. Pertanyaannya adalah: “Apa yang menyebabkan Eropa akan semakin dingin?” Pemanasan global akan menyebabkan terjadinya pencairan es di kutub. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah air, sehingga terjadi pengenceran air laut. Akibatnya, densitas air laut menjadi berkurang sehingga proses sinking atau downwelling pun akan melemah. Melemahnya proses ini akan mengurangi jumlah air hangat yang masuk dari daerah tropis. Akibat selanjutnya, iklim di lintang menengah dan tinggi tidak lagi sehangat sebelumnya, dan ini yang akan memicu terjadinya Eropa yang membeku dalam jangka panjang.Pemanasan global ( global warming) dan perubahan cuaca ( climate change) Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti dengan Perubahan Iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhuMengapa terjadi Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change)?Pemanasan Global dan Perubahan Iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta kegiatan lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian, dan peternakan. Aktivitas manusia di kegiatankegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan jumlah Gas Rumah Kaca secara global.Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?
Berdampak kepada kehidupan sosial - budaya- bagi petani tidak ekonomisnya pertanian akan menyebabkan alih fungsi lahan danbergantinya corak produksi.Nelayan tidak melaut berarti tidak makan, seiring meningkatnya intensitas badai- budaya yang lahir akibat interaksi manusia dengan alam akan tercabut, seperti contoh masyarakat Tuvalu yang tercabut dari peradabannya akibat daerah mereka tenggelam..Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian.Dampak bagi ekonomi,semakin meningkatnya intensitas bencana akan merusak infrastruktur yang amat penting bagi laju pertumbuhan ekonomi,bencana juga menyebabkan manusia kehilangan harta benda dan menyebabkan mereka menjadi miskin rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana akan memerlukan biaya yang sangat besar. Dampak bagi kelangsungan makhluk hidup; Musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayatiKenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya coral bleaching dan kerusakan terumbu karang diseluruh dunia Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan.Entah, bagaimana nanti kehidupan dibumi ini. Bumi pun semakin lama, semakin tua dan kehidupan manusia pun terancam, akibat ulahnya sendiri.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam penulisan Pusindok dan MPM KM UNAND.
Oleh Elsya Crownia*
Dosa siapa, ini dosa siapa
Salah siapa, ini salah siapa
(Ebiet G Ade)
Begitulah yang kita rasakan dinegeri ini. Bencana alam berulang kali melanda bangsa ini. Ekosistem pun terancam, kehidupan pun seakan-akan musnah dari peradaban. Memang, tak bias kita pungkiri bencana hadir dalam kehidupan akibat ulah tangan manusia. Bumi yang hijau nan indah, kini berubah hitam pekat oleh asap kendaraan, efek rumah kaca, dibangunannya pusat industri sehingga, tak kita temukan lagi keindahan.Bencana demi bencana menghampiri negeri ini. Entah, alam mulai marah dengan kecongkakan dan kesombongan manusia yang mematikan peradaban. Peradaban pun tumbuh berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan manusia. fek rumah kaca yang memicu pemanasan global menjadi sorotan tajam semua negara. Padahal di zaman purba, efek rumah kaca justru memicu munculnya kehidupan yang beragam..Para pakar iklim mengkhawatirkan, jika terjadi pemanasan global akan terjadi bencana hebat yang amat merugikan umat manusia. Para pakar iklim merisaukan, meningkatnya suhu Bumi beberapa derajat Celsius dari suhu rata-rata sekarang ini, akan mencairkan lapisan es di kedua kutub. Dampaknya muka air laut akan naik beberapa meter. Hal ini akan mengakibatkan musnahnya negara-negara kepulauan kecil atau negara yang ketinggiannya sejajar dengan permukaan laut. Tetapi betulkah pemanasan global selalu berdampak negatif?Ternyata sejarah iklim Bumi menunjukkan, efek rumah kaca dan pemanasan global justru memicu munculnya kehidupan. Kajian paleo-klima, yakni iklim di zaman purba menunjukkan, sejak 4,3 milyar tahun lalu di Bumi sudah diproduksi gas rumah kaca alami, terutama methan dan karbon-dioksida. Hal ini menyebabkan efek rumah kaca yang menghangatkan suhu Bumi, menjadi rata-rata 15 derajat Celsius. Jika tidak ada pemanasan global, suhu Bumi ketika itu diperkirakan rata-rata minus 18 derajat Celsius, karena intensitas energi matahari pada awal pembentukan Bumi, hanya 70 persen dari intensitasnya sekarang. Para pakar paleo-klima bertanya, gas rumah kaca alami apa yang menyebabkan efek rumah kaca itu? Mula-mula diduga gas rumah kaca karbondioksida dari aktivitas gunung api, yang menyebabkan efekr rumah kaca purba tsb. Akan tetapi, selama dua dekade para ahli terus memperdebatkan intensitasnya. Karena efek gas rumah kaca karbondioksida dari aktivitas gunung api, menurut perhitungan jauh lebih lemah dari fakta yang ada. Barulah pada tahun 1995 lalu, kelompok peneliti dari Universitas Harvard di Cambridge-Massachussets, di bawah pimpinan Prof. Dr. Rob Rye mematahkan teori karbondioksida (intermezzo).Menjaga lingkungan hidup berarti ajakan untuk memperhatikan semua ciptaan dan untuk menjamin kegiatan manusia, sambil mengolah alam, manusia tidak merusak keseimbangan dinamika yang ada di antara semua makhluk hidup yang bergantung pada tanah, udara dan air bagi keberadaannya. Isyu lingkungan hidup telah menjadi inti pemikiran sosial, politik dan ekonomi karena degradasi yang seringkali menyebabkan penderitaan kelompok miskin dari masyarakat. Resiko akibat perubahan iklim dan bertambahnya bencana alam mendorong untuk mempersoalkan kembali keyakinan masyarakat modern. Berkembangnya gap antara kaya dan miskin tidak boleh membuat orang acuh tak acuh dan mencegah penggunaan berlebihan sumber-sumber alam dan mencegah percepatan hilangnya spesies-spesies. (Cardinal Fracis Xavier Nguyen Van Thuan, Presiden Dewan Pontifikal untuk Keadilan dan Perdamaian).Pemanasan global juga merusak seluruh infrastruktur dan lingkungan hidup ikut terancam. Ada satu artikel yang menarik ketika saya membaca tentang dampak dari pemanasan global. Artikel ini ditulis berdasarkan pada hasil simulasi numerik jangka panjang tentang apa yang akan terjadi jika laju penambahan gas rumah kaca terus bertambah di atmosfer Bumi. Dalam jangka panjang, ternyata Eropa akan semakin dingin jika pemanasan global terus berlangsung. Pertanyaannya adalah: “Apa yang menyebabkan Eropa akan semakin dingin?” Pemanasan global akan menyebabkan terjadinya pencairan es di kutub. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah air, sehingga terjadi pengenceran air laut. Akibatnya, densitas air laut menjadi berkurang sehingga proses sinking atau downwelling pun akan melemah. Melemahnya proses ini akan mengurangi jumlah air hangat yang masuk dari daerah tropis. Akibat selanjutnya, iklim di lintang menengah dan tinggi tidak lagi sehangat sebelumnya, dan ini yang akan memicu terjadinya Eropa yang membeku dalam jangka panjang.Pemanasan global ( global warming) dan perubahan cuaca ( climate change) Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti dengan Perubahan Iklim, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhuMengapa terjadi Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim (Climate Change)?Pemanasan Global dan Perubahan Iklim terjadi akibat aktivitas manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) serta kegiatan lain yang berhubungan dengan hutan, pertanian, dan peternakan. Aktivitas manusia di kegiatankegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan perubahan komposisi alami atmosfer, yaitu peningkatan jumlah Gas Rumah Kaca secara global.Kendaraan yang mengonsumsi bahan bakar sebanyak 7,8 liter per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, maka setiap tahunnya akan mengemisikan 3 ton karbondioksida ke udara! Bayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Jakarta lebih dari 4 juta kendaraan! Berapa ton karbondioksida yang masuk ke atmosfer per tahun?
Berdampak kepada kehidupan sosial - budaya- bagi petani tidak ekonomisnya pertanian akan menyebabkan alih fungsi lahan danbergantinya corak produksi.Nelayan tidak melaut berarti tidak makan, seiring meningkatnya intensitas badai- budaya yang lahir akibat interaksi manusia dengan alam akan tercabut, seperti contoh masyarakat Tuvalu yang tercabut dari peradabannya akibat daerah mereka tenggelam..Daerah-daerah tertentu menjadi padat dan sesak karena terjadi arus pengungsian.Dampak bagi ekonomi,semakin meningkatnya intensitas bencana akan merusak infrastruktur yang amat penting bagi laju pertumbuhan ekonomi,bencana juga menyebabkan manusia kehilangan harta benda dan menyebabkan mereka menjadi miskin rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana akan memerlukan biaya yang sangat besar. Dampak bagi kelangsungan makhluk hidup; Musnahnya berbagai jenis keanekragaman hayatiKenaikan suhu air laut menyebabkan terjadinya coral bleaching dan kerusakan terumbu karang diseluruh dunia Meningkatnya frekuensi kebakaran hutan.Entah, bagaimana nanti kehidupan dibumi ini. Bumi pun semakin lama, semakin tua dan kehidupan manusia pun terancam, akibat ulahnya sendiri.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam penulisan Pusindok dan MPM KM UNAND.
No comments:
Post a Comment