Geng, dan Senioritas di Kalangan Remaja
Oleh: Elsya Crownia*
Geng dikalangan remaja, khususnya pelajar meresahkan masyarakat. Tak ayal memang kebanyakan anggota geng berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Namun, perekrutan anggota geng tak lepas dari tindakan kekerasan, apabila ada penolakan maka mereka kerap kali melakukan aksi kekerasan.
Keberadaan geng pada akhirnya berujung kekerasan. Adanya geng disekolah merupakan hal biasa, biasanya anak-anak ABG tidak mencurahkan segala permasalahannya kepada orang tua, tetapi mereka lebih percaya kepada teman. Keruntutan atau frustasikah mereka dengan berbagai desakan dan pemaksaan hingga akhirnya bertindak diluar batas. Sedangkan, tokoh pendidik pun tak mampu untuk mengatasi segala persoalan tersebut. Perilaku anarkis mungkin adalah sikap pemberontakan dalam diri remaja. Apalagi, dizaman yang menawarkan beribu kemudahan dan tekanan hidup semakin tinggi sehingga, anak-anak ABG sulit dikendalikan. Tingkat stres masayarakat yang begitu tinggi. Bullying adalah tindakan menyakiti (fisik dan psikis) yang terencana dari pihak yang merasa lebih berkuasa terhadap pihak yang dianggap lebih lemah. Alasan menyakiti itu biasanya dicari- cari untuk menjustifikasi kekerasan. Biasanya, kredo bullying adalah untuk menjalin solidaritas dan rasa setia kawan. Bullying juga berbeda dengan pertengkaran biasa, yang memiliki suatu alasan jelas. solidaritas yang dikredokan tersebut pada prinsipnya merupakan solidaritas semu. Tak cuma itu, sering kali pihak senior beralasan, metode kekerasan kepada yunior dalam rangka melatih mental mereka supaya tahan banting. Padahal, itu semua hanyalah alasan untuk membenarkan cara kekerasan itu lestari menjadi tradisi.
Generasi penerus bangsa terlalu ditekan oleh budaya pemaksaan. Disekolah ataupun dikampus sendiri kreativitas mahasiswa terlalu dibatasi. Padahal, mereka juga butuh ruang untuk mengekspresikan diri. Guru dan dosen kadang hanya sekedar memberikan materi. Tersedianya OSIS dan ekstrakurikuler lainnya untuk mengembangkan bakat dan kemampuan sering dibatasi. Dikota besar dan wilayah provinsi hanya menyediakan mall, minimarket, serta bangunan-bangunan kapitalis yang tidak sedikit menghabiskan dana. Akhirnya, generasi muda kehilangan ruang untuk bergerak bebas.
Betapa pentingnya pendekatan persuasif antara guru dan murid. Walaupun, disekolah itu terkenal dengan pengawasan ketat guru pun pada akhirnya akan tergecoh karena, ternyata ada geng-geng terselubung yang melakukan tindakan anarki.
Kelongaran pengawasan guru, dan kurangnya peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Memang, dizaman ini kebanyakan kalangan orang tua mempunyai ego yang tinggi sehingga, kewajiban mereka sebagai orang tua sering terabaikan. Banyak kita temukan kalangan pelajar dan mahasiswa yang terperangakp diluabng kelam.
Menurut Pakar pendidikan, keberadaan geng disekolah berawal dari adanya senioritas dalam organisasi yang memicu tindakan kekerasan. Disamping itu, penerapan disiplin disekolah sangat diperlukan bimbingan. Psikolog Suyanto berpandapat lain bahwa wajar para remaja berperilaku diluar batas, karena pada saat itu mereka mencari identitas dan jati diri. Seharusnya para guru berdialog dengan para murid saat jam istirahat. Begitu pula dengan orang tua bertangung jawab dalam mengawasi pergaulan anaknya.
Media massa pun memiliki pengaruh yang besar. Apalagi tayangan yang bersifat kekerasan seperti Buser, Sergap, dan Sigi sangat mempengaruhi mentalitas remaja. Selain itu, perilaku anggota geng motor, pun meresahkan masyarakat. Bahkan, mereka pun tak segan-segan melakukan aksi pemalakan, dan perampokan.
Lingkungan disekitar pun sakit, tak pernah mereka temukan situasi yang menujang kreativitas mereka. Intensitas kenakalan remaja dari tahun ke tahun semakin meningkat. Keterbatasan ruang untuk berkreativitas, mall, dan sistem pendidikan yang setiap tahun menuntut belajar, belajar, seolah-olah sekolah hanya bersifat menuntut bukan sebagai tempat un tuk mengembangkan diri mereka. Ideologi kapitas dan hedonis pun ikut mempengaruhi berkembangnya geng. Seakan-akan, generasi kita hanyalah generasi yang anarkis.
Sesungguhnya, apabila kapitalis dan hedonis tidak muncul dinegeri ini mungkin keadaan akan lebih baik lagi.Kebrutalan demi kebrutaln pun terjadi, bangsa ini pun menangisi takdir yang mereka buat sendiri. Kalau dilihat sekolah-sekola h hanya mengandalkan ranking tetapi mereka tak pernah sedikit pun memperhatikan psikologi remaja dan mahasiswa. Selain, kurang percaya guru terhadap muridnya, sebenarnya mereka dapat diluruskan tanpa pemaksaan dan menekan jiwa.
Generasi kita butuh pengertian dari lingkungan sekolah. Biasanya, tindakan anarki berawal dari sikap keras orang tua dan guru itu sendiri. Seharusnya, guru dan orang tua tak pantas untuk menghakimi mereka. Jiwa yang labil, dan ambisi membuat mereka bertindak anarkis.
Demikian pula dengan SMU di Colorado Amerika Serikat dibanjiri darah 25 siswanya. Mereka tewas dibantai dua siswa yang berulah seperti Rambo. Dengan wajah dingin tanpa balas kasihan, mereka memberondong temannya sendiri dengan timah panas. Kejadian ini sungguh menggemparkan dan banyak pakar yang menuding tayangan kekerasan di televisi atau komputer (game dan internet) sebagai biangkerok tindak kekerasan yang terjadi di kalangan anak.
Tudingan terhadap media massa terutama televisi sebagai biang keladi tindak kekerasan dan perilaku negatif lainnya pada pada anak-anak sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Sekitar satu dekade yang lalu, musik rock disalahkan sebagai penyebab kasus pembunuhan di kalangan remaja. Begitupun film kartun berjudul Beavis dan Butthead dituding sebagai penyebab memban-jirnya kasus pembakaran rumah di mana pelakunya adalah anak-anak muda.Kecenderungan lain adalah anak-anak dan para remaja merasa bergengsi bila makan makanan yang sering muncul di layar TV. Makanan fast food seperti fried chichen, pizza, hamburger, dan jenis makanan lainnya yang di negara asalnya merupakan makanan biasa menjadi makanan luar biasa (bergengsi). Anak-anak mulai tahu bahkan paham betul merek-merek dagang terkenal dan lux, termasuk merk mobil yang mungkin mustahil terjangkau oleh kocek orang tuanya. Lebih mengkhawatirkan lagi mereka lebih suka nongkrong di depan TV, diban-dingkan belajar, membaca, atau mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Padahal, generasi kita adalah penerus bangsa namun, begitu banyak racun yang mengerogoti dan membunuh kecerdasan mereka.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Labor Pusindok, MPM KM UNAND
Friday, December 14, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment