Indentitas Budaya
Oleh: Elsya Crownia*
Seiring cepatnya perjalanan waktu, maka zaman pun berubah. Cepatnya perubahan, diiringi dengan mudahnya teknologi dan informasi. Globalisasi memang menawarkan segala macam kemudahan, namun tak sedikit pula membawa petaka. Dampak globalisasi mempengaruhi peradaban dan kebudayaan manusia. Memang, proses globalisasi tidak dapat diabaikan oleh setiap masyarakat dan bangsa didunia. Tidak satu pun manusia, masyarakat, dan bangsa yang luput dari pengaruh globalisasi. Menurut Enrique Subercaceaux, menyatakn bahwa bangsa-bangsa di Asia Pasifik perlu mempunyai outward dan forward looking. Mengingat, pembangunan sebuah bangsa itu sendiri, tetapi juga pembangunan harus melihat keluar dan kedepan serta perlu dijalin dengan bangsa lain. Karena masyarakat dan bangsa kita adalah bagian dari suatu masyarakat dunia yang semakin maju dan menyatu. Kekuatan globalisasi mengakibatkan revolusi di dalam kehidupan manusia yang terkotak-kotak, baik dalam ikatan bangsa dan negara, maupun dalam ikatan budaya. Dengan kemajuan teknologi komunikasi, terciptanya information market place telah memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan lain, belajar satu dengan lain, dan tersedianya informasi secara cepat dan akurat. Gelombang globalisasi merupakan tantangan dan peluang. Dengan kata lain, proses gelombang globalisasi mempunyai dampak-dampak positif dan negatif.
Sekitar tahun 1990-an televisi mulai ramai di Indonesia. Dampak kehadiran televisi tersebut dalam masyarakat sangat besar, apalagi kebudayaan di televisi cendrung mengadopsi budaya asing, yang menjual tangis, dan tragedi tak masuk akal.
Muis (1993) menambahkan bahwa dalam hal penyampaian kepada publik, televisi lebih efektif dan jauh lebih tajam dari radio. Visualisasi pun menyebabkan interaksi budaya. Sehingga, budaya hanyalah sebuah ruangan kosong. Budaya adalah hasil kreasi suatu masyarakat yang ditujukan kepada kepentingan kehidupan masyarakat yang memiliki kebudayaan itu. Kreasi itu sangat bermanfaat bagi masyarakat, untuk kepentingan kehidupan masyarakat tersebut agar tetap eksis dan berkembang. Kebudayaan bukanlah sebuah ruangan kosong dan tidak hidup berkembang.
Namun, yang kita rasakan globalisasi malah telah menoreh luka dan menyajikan realita yang penuh kebobrokan. Seolah-olah generasi muda benar-benar telah melupakan eksistensi budaya daerah, transformasi budaya asing yang cendrung dengan mudah ditiru. Generasi kita tak lagi menghargai sebuah peradaban, peradaban dan rentetan perjalanan sejarah telah terlupakan.
Tak heran, para pencontek budaya asing malah berbangga dengan keberadaan diri mereka. Sejarah peradaban pun tak teracuhkan. Kehidupan bebas, dan glamour yang cendrung berpengaruh dalam kehidupan bangsa.
Bangsa Indonesia sebagai negara kebangsaan perlu terus menerus dihayati dan dikembangkan. Apalagi di dalam menghadapi kehidupan dunia yang semakin terbuka. Kesadaran kita sebagai suatu bangsa merupakan salah satu syarat keberadaan kita. Namun, yang kita rasakan keberadaan kita antara ada dan tiada. Kebudayaan asli pun telah dirobah sekenanya. Oleh karena itu, nilai wawasan kebangsaan tidak dapat kita terima sebagai taken for granted, tetapi sebagai suatu wawasan yang teus menerus harus menjiwai aktivitas kita untuk hidup sebagai bangsa. Karena, keberhasilan pembangunan bangsa yang kurang diimbangi dengan karakter bangsa, telah mengakibatkan goncangan dan krisis budaya, yang berujung pada lemahnya ketahanan budaya.. Di Inggris, para pemikir mempelopori penjelalajahan karya Marx Muda dan Hegel untuk menganalisis politik, masyarakat, dan kebudayaan populer ( di Jerman hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok Frankfurt sejak 30-an). Tulisan-tulisan Antonio Gramsci tentang hegemoni dan kelompok Frankfurt tentang kebudayaan Industri. Memperjelas, industrialisasi, globalisasi menyebabkan lahirnya fasisme, anarkisme, kapitalis, hedonis, dan hilangnya identitas bangsa.
Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarah dan indentitasnya sebagai bangsa. Sebagaimana upaya Jepang dalam menyelamatkan kebudayaannya melalui penyimpanan arsip-arsip kebudayaan. Demikian pula Inggris tetap bangga dengan masyarakat yang cendrung menghargai nilai-nilai budaya lama (dianggap sebagai masyarakat konservatif).
Kalau dilihat lebih jauh, generasi penerus bangsa malah terbuai dengan kebudayaan asing. Tak ada rasa bangga, apalagi mengenal sejarah dan budaya sendiri lantas, haruskah kita menjadi bangsa yang tanpa identitas. Bangsa ini telah hilang martabatnya, bahkan krisis bangsa yang bermula berawal dari krisis ekonomi pun berkembang menjadi krisis budaya, dan krisis moral. Lantas, mau dikemanakan bangsa ini. Namun, paling menyedihkan bangsa ini masih dijajah. Penjajahan itu hanya bersifat halus, menusuk relung hati dan menyayat hati generasi yang berselimutkan modernisasi. Dengan segenap sikap bernama hedonis, anarkis, dan kebrutalan tak ada habis-habisnya.
Transformasi kebudayaan di negeri ini cendrung di paksakan. Bahkan, pemaksaan itu notabene tak menyatu dengan struktur budaya. Bangsa ini terlalu terlelap dalam dimensi ruang dan waktu yang tak tepat. Banyak, kita saksikan generasi-generasi yang terombang-ambing dengan budaya. Nyatanya, mereka pun tak bertanya siapa mereka dan budaya apa yang dibawa.
Kemerdekaan, bukanlah seenaknya mengambil sesuatu yang mesti dipakai. Kemerdekaan dan kebebasan pada akhirnya hanyalah sebagai simbol kebobrokan. Bukankah, kemerdekaan itu harus diisi dengan hal-hal berguan, agar bangsa ini mampu lepas dari jeratan budaya.
Dirkursus kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari konteksnya. Karena, dalam konteks perkembangan kebudayaan mempengaruhi realisasi kemerdekaan dan kreativitas manusia secara budaya. Kebudayaan adalah respon manusia dengan kemerdekaannya terhadap pembatasan ruang dan waktu ( Ignas Kleden, 2004).
Kebudayaan nasional merupakan cerminan kepribadian bangsa cendrung digunakan sebagai alat kontrol untuk mengawasi gaya politik dan gaya intelektual. Dalam bidang politik tidak diperkenankan oposisi, sedangkan intelektual setiap pemikiran kritis harus memenuhi syarat-syarat estetika sopan santun menurut tuntutan kebudayaan nasional bukan mengadopsi kebudayaan asing dengan menyatukan budaya. Sehingga, keluar dari konteks budaya itu sendiri.
Lantas, mengapa bangsa ini enggan untuk belajar sejarah. Apakah sejarah hanyalah omong kosong belaka sehingga, tak perlu dipelajari. Sikap historis sangat penting, seharusnya sikap ini lebih ditekankan kepada generasi-genaerasi penerus bangsa. Karena, sejarah membentuk kebudayaan kita, tetapi kebudayaan kembali menciptakan sejarah. Memang, manusia tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Terutama sejarah bangsanya sendiri. Tetapi, sejarah pun tidak dapat membebaskan diri dari manusia yang menggerakkannya. Sikap historis menekankan sikap manusia dalam sejarah. Sementara, sikap kritis menekankan sejarah sebagai sejarah manusia. Kehidupan kebudayaan berlansung dalam pasang surut antara pemantapan kebudayaan itu dalam tradisi dan pembaruan kebudayaan itu melalui perubahan dan reformasi.Kebudayaan itu merupakan sesuatu yang kontinum dan diskontinum (Ignas Kleden,1986).
Ironi, bila manusia Indonesia terbenam dalam kebudayaan yang bukan miliknya. Malahan, kebudayaan itu hanya menghasilkan kebrutalan. Bahkan, hingga manusia tidak lagi mempunyai hati nurani. Refleksi Indonesia pun hadir dalam tekanan budaya ( cultural shock). Namun, kebudayaan dinegeri ini merupakan rentetan produk yang sengaja diciptakan untuk menghancurkan peradaban. Lantas, generasi pun justru kehilangan identitas mereka sebagai orang Timur. Namun, generasi kita hanya terpana dan hanya menatap kosong akan sejarah bangsa.
Agar suatu kebudayaan bisa terus dan tetap dihayati secara kreatif diperlukan refleksi dan partisipasinya bahwa kebudayaan tersebut adalah ciptaan manusia sendiri. Yang diciptakan dengan tujuan dan keperluan tertentu. Kebudayaan adalah identitas bangsa, tanpa identitas bangsa ini akan kehilangan jati dirinya dan akan tetap menjadi generasi terbelakang, kuli, malas, dan tergantung pada kehidupan modernis namun berpola pikir klasik. Lantas, dimanakah kita akan menemukan identitas sejati.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam penulisan Pusindok dan MPM KM UNAND periode 2007/2008.
Oleh: Elsya Crownia*
Seiring cepatnya perjalanan waktu, maka zaman pun berubah. Cepatnya perubahan, diiringi dengan mudahnya teknologi dan informasi. Globalisasi memang menawarkan segala macam kemudahan, namun tak sedikit pula membawa petaka. Dampak globalisasi mempengaruhi peradaban dan kebudayaan manusia. Memang, proses globalisasi tidak dapat diabaikan oleh setiap masyarakat dan bangsa didunia. Tidak satu pun manusia, masyarakat, dan bangsa yang luput dari pengaruh globalisasi. Menurut Enrique Subercaceaux, menyatakn bahwa bangsa-bangsa di Asia Pasifik perlu mempunyai outward dan forward looking. Mengingat, pembangunan sebuah bangsa itu sendiri, tetapi juga pembangunan harus melihat keluar dan kedepan serta perlu dijalin dengan bangsa lain. Karena masyarakat dan bangsa kita adalah bagian dari suatu masyarakat dunia yang semakin maju dan menyatu. Kekuatan globalisasi mengakibatkan revolusi di dalam kehidupan manusia yang terkotak-kotak, baik dalam ikatan bangsa dan negara, maupun dalam ikatan budaya. Dengan kemajuan teknologi komunikasi, terciptanya information market place telah memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan lain, belajar satu dengan lain, dan tersedianya informasi secara cepat dan akurat. Gelombang globalisasi merupakan tantangan dan peluang. Dengan kata lain, proses gelombang globalisasi mempunyai dampak-dampak positif dan negatif.
Sekitar tahun 1990-an televisi mulai ramai di Indonesia. Dampak kehadiran televisi tersebut dalam masyarakat sangat besar, apalagi kebudayaan di televisi cendrung mengadopsi budaya asing, yang menjual tangis, dan tragedi tak masuk akal.
Muis (1993) menambahkan bahwa dalam hal penyampaian kepada publik, televisi lebih efektif dan jauh lebih tajam dari radio. Visualisasi pun menyebabkan interaksi budaya. Sehingga, budaya hanyalah sebuah ruangan kosong. Budaya adalah hasil kreasi suatu masyarakat yang ditujukan kepada kepentingan kehidupan masyarakat yang memiliki kebudayaan itu. Kreasi itu sangat bermanfaat bagi masyarakat, untuk kepentingan kehidupan masyarakat tersebut agar tetap eksis dan berkembang. Kebudayaan bukanlah sebuah ruangan kosong dan tidak hidup berkembang.
Namun, yang kita rasakan globalisasi malah telah menoreh luka dan menyajikan realita yang penuh kebobrokan. Seolah-olah generasi muda benar-benar telah melupakan eksistensi budaya daerah, transformasi budaya asing yang cendrung dengan mudah ditiru. Generasi kita tak lagi menghargai sebuah peradaban, peradaban dan rentetan perjalanan sejarah telah terlupakan.
Tak heran, para pencontek budaya asing malah berbangga dengan keberadaan diri mereka. Sejarah peradaban pun tak teracuhkan. Kehidupan bebas, dan glamour yang cendrung berpengaruh dalam kehidupan bangsa.
Bangsa Indonesia sebagai negara kebangsaan perlu terus menerus dihayati dan dikembangkan. Apalagi di dalam menghadapi kehidupan dunia yang semakin terbuka. Kesadaran kita sebagai suatu bangsa merupakan salah satu syarat keberadaan kita. Namun, yang kita rasakan keberadaan kita antara ada dan tiada. Kebudayaan asli pun telah dirobah sekenanya. Oleh karena itu, nilai wawasan kebangsaan tidak dapat kita terima sebagai taken for granted, tetapi sebagai suatu wawasan yang teus menerus harus menjiwai aktivitas kita untuk hidup sebagai bangsa. Karena, keberhasilan pembangunan bangsa yang kurang diimbangi dengan karakter bangsa, telah mengakibatkan goncangan dan krisis budaya, yang berujung pada lemahnya ketahanan budaya.. Di Inggris, para pemikir mempelopori penjelalajahan karya Marx Muda dan Hegel untuk menganalisis politik, masyarakat, dan kebudayaan populer ( di Jerman hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok Frankfurt sejak 30-an). Tulisan-tulisan Antonio Gramsci tentang hegemoni dan kelompok Frankfurt tentang kebudayaan Industri. Memperjelas, industrialisasi, globalisasi menyebabkan lahirnya fasisme, anarkisme, kapitalis, hedonis, dan hilangnya identitas bangsa.
Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarah dan indentitasnya sebagai bangsa. Sebagaimana upaya Jepang dalam menyelamatkan kebudayaannya melalui penyimpanan arsip-arsip kebudayaan. Demikian pula Inggris tetap bangga dengan masyarakat yang cendrung menghargai nilai-nilai budaya lama (dianggap sebagai masyarakat konservatif).
Kalau dilihat lebih jauh, generasi penerus bangsa malah terbuai dengan kebudayaan asing. Tak ada rasa bangga, apalagi mengenal sejarah dan budaya sendiri lantas, haruskah kita menjadi bangsa yang tanpa identitas. Bangsa ini telah hilang martabatnya, bahkan krisis bangsa yang bermula berawal dari krisis ekonomi pun berkembang menjadi krisis budaya, dan krisis moral. Lantas, mau dikemanakan bangsa ini. Namun, paling menyedihkan bangsa ini masih dijajah. Penjajahan itu hanya bersifat halus, menusuk relung hati dan menyayat hati generasi yang berselimutkan modernisasi. Dengan segenap sikap bernama hedonis, anarkis, dan kebrutalan tak ada habis-habisnya.
Transformasi kebudayaan di negeri ini cendrung di paksakan. Bahkan, pemaksaan itu notabene tak menyatu dengan struktur budaya. Bangsa ini terlalu terlelap dalam dimensi ruang dan waktu yang tak tepat. Banyak, kita saksikan generasi-generasi yang terombang-ambing dengan budaya. Nyatanya, mereka pun tak bertanya siapa mereka dan budaya apa yang dibawa.
Kemerdekaan, bukanlah seenaknya mengambil sesuatu yang mesti dipakai. Kemerdekaan dan kebebasan pada akhirnya hanyalah sebagai simbol kebobrokan. Bukankah, kemerdekaan itu harus diisi dengan hal-hal berguan, agar bangsa ini mampu lepas dari jeratan budaya.
Dirkursus kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari konteksnya. Karena, dalam konteks perkembangan kebudayaan mempengaruhi realisasi kemerdekaan dan kreativitas manusia secara budaya. Kebudayaan adalah respon manusia dengan kemerdekaannya terhadap pembatasan ruang dan waktu ( Ignas Kleden, 2004).
Kebudayaan nasional merupakan cerminan kepribadian bangsa cendrung digunakan sebagai alat kontrol untuk mengawasi gaya politik dan gaya intelektual. Dalam bidang politik tidak diperkenankan oposisi, sedangkan intelektual setiap pemikiran kritis harus memenuhi syarat-syarat estetika sopan santun menurut tuntutan kebudayaan nasional bukan mengadopsi kebudayaan asing dengan menyatukan budaya. Sehingga, keluar dari konteks budaya itu sendiri.
Lantas, mengapa bangsa ini enggan untuk belajar sejarah. Apakah sejarah hanyalah omong kosong belaka sehingga, tak perlu dipelajari. Sikap historis sangat penting, seharusnya sikap ini lebih ditekankan kepada generasi-genaerasi penerus bangsa. Karena, sejarah membentuk kebudayaan kita, tetapi kebudayaan kembali menciptakan sejarah. Memang, manusia tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Terutama sejarah bangsanya sendiri. Tetapi, sejarah pun tidak dapat membebaskan diri dari manusia yang menggerakkannya. Sikap historis menekankan sikap manusia dalam sejarah. Sementara, sikap kritis menekankan sejarah sebagai sejarah manusia. Kehidupan kebudayaan berlansung dalam pasang surut antara pemantapan kebudayaan itu dalam tradisi dan pembaruan kebudayaan itu melalui perubahan dan reformasi.Kebudayaan itu merupakan sesuatu yang kontinum dan diskontinum (Ignas Kleden,1986).
Ironi, bila manusia Indonesia terbenam dalam kebudayaan yang bukan miliknya. Malahan, kebudayaan itu hanya menghasilkan kebrutalan. Bahkan, hingga manusia tidak lagi mempunyai hati nurani. Refleksi Indonesia pun hadir dalam tekanan budaya ( cultural shock). Namun, kebudayaan dinegeri ini merupakan rentetan produk yang sengaja diciptakan untuk menghancurkan peradaban. Lantas, generasi pun justru kehilangan identitas mereka sebagai orang Timur. Namun, generasi kita hanya terpana dan hanya menatap kosong akan sejarah bangsa.
Agar suatu kebudayaan bisa terus dan tetap dihayati secara kreatif diperlukan refleksi dan partisipasinya bahwa kebudayaan tersebut adalah ciptaan manusia sendiri. Yang diciptakan dengan tujuan dan keperluan tertentu. Kebudayaan adalah identitas bangsa, tanpa identitas bangsa ini akan kehilangan jati dirinya dan akan tetap menjadi generasi terbelakang, kuli, malas, dan tergantung pada kehidupan modernis namun berpola pikir klasik. Lantas, dimanakah kita akan menemukan identitas sejati.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam penulisan Pusindok dan MPM KM UNAND periode 2007/2008.
No comments:
Post a Comment