Friday, December 14, 2007

PNS dan Budaya Feodal
Oleh: Elsya Crownia*

To accomplish great things, we must dream as well act ( Anatole France, 1844-1924)
Berawal dari mimpi, maka kita dapat melakukan hal terbesar dalam hidup. Memang, kita haru berani bermimpi. Mimpi, cendrung dekat dengan tidur tetapi mimpi pulalah yang dapat menuntun kita untuk hidup lebih hidup. Tak sekedar kata mimpi, tak sekedar impian. Impianlah yang memotivasi diri kearah yang lebih baik. Namun, alangkah malangnya kalau hanya kita hanya berani berkilah dengan kenyataan yang tak seharusnya kita lalui. Seperti antrian panjang calon mahasiswa, dan calon pekerja. Kesia-siaankah ataukah ini telah mendarah daging dalam sanubari generasi pencari kerja.
Diperkirakan 65 ribu pencari kerja menyerbu kantor pos di Sumatera Barat untuk memasukkan lamaran, memperebutkan 1.008 lowongan. Mereka bagian dari 1,9 juta angkatan kerja yang tercatat di Sumatera Barat ( Singgalang, 16 November 2007)
Rata-rata generasi muda di negeri ini mempunyai cita-cita sebagai pegawai. Pegawai dimata mereka merupakan sebuah prestise atau kebanggaan. Padahal, persaingan untuk mendapatkan status sebagai PNS begitu ketat. Para pencari kerja rata-rata menginginkan posisi sebagai guru, mengingat waktu kerja yang singkat dengan gaji yang sangat memuaskan belum lagi sokongan dana pensiun.
Sayangnya, si pencari kerja sendiri tidak punya motivasi untuk menerapkan ilmunya yang telah didapatkan di Perguruan Tinggi hanyalah sia-sia belaka. Lantas, apakah dengan dibukanya jalur PNS pengangguran dan kemiskinan akan berkurang?. Menurut Penulis, ini adalah sebuah realitas rendahnya kualitas SDM dinegeri ini. Generasi-generasi pencari kerja rata-rata adalah orang yang telah menyelesaikan pendidikan dibangku perguruan tinggi, tidak sedikit dari mereka mengharapkan keterikatan dengan satu lembaga atau institusi sebagai pegawai. Namun, mereka hanya terlalu terhipnotis dengan gaji besar, masa depan cerah, masa tua terjamin, dan keluarga terjamin. Namun, tak banyak yang merasakan kekecewaan hingga akhirnya tetap menyandang status sebagai pengangguran.
Mengingat ketatnya persaingan, namun tak terbersit dibenak mereka untuk menuntut ilmu yang bersifat keterampilan. Padahal, dengan membekali diri dengan suatu keterampilan maka kita tak mesti mengandalkan PNS sebagai jaminan atau sebagai pelepas dahaga. Apa salahnya kita mempunyai motivasi diri untuk berusaha mandiri.Umumnya, masyarakat yang berpandangan klasik bahwa alangkah terjaminnya masa depan kita kalau telah mendapatkan gaji besar sebagai pegawai.
Kalau diingat kisah klasik yang terukir. Zaman dahulu, disaat bangsa kita masih dijajah oleh Belanda hanya diterima menjadi pegawai dengan gaji yang sangat rendah. Bangsa kita hanya diangkat sebagai kuli rendahan. Haruskah kita menjadi generasi-generasi kuli yang masih membanggakan budaya feodal. Dengan iming-iming masa depan keluarga terjamin namun miskin kreativitas dan terkunkung budaya malas.
Kalau diperhatikan lebih lanjut, kreativitas generasi disetiap angkatan cendrung malas dan tak menghargai kreativitas. Sehingga, masyarakat kekurangan inovasi. Berdasarkan pengalaman yang penulis dapat, masyarakat sangat memimpikan adanya inovasi baru. Namun, inovasi dan kreativitas dinegeri ini hanya berjalan dengan penuh kekakuan. Generasi kita tak berani untuk bermimpi. Padahal, mimpi yang akan menuntun mereka untuk melakukan sesuatu. Belajar, pun tanpa motivasi seolah-olah hanya pengisi waktu luang. Lantas, setelah itu hura-hura. Generasi kita tak pernah merasakan betapa pahitnya hidup menuju proses keberhasilan. Keberhasilan bukanlah dengan membawa nilai-nilai. Layaknya nilai hanyalah syarat namun lebih utama adalah kompeten, dan menguasai bidangnya.
Padahal, dalam pendidikan formal hanyalah kegiatan belajar mengajar. Tanpa dibekali dengan sebuah keahlian dan keterampilan sudah barang tentu bangsa ini akan melahirkan para pengangguran terdidik (educated unemployment) dan pengangguran tak terdidik (uneducated unemployment), bersaing memperebutkan kursi PNS.
Mengingat meningkatnya angka pengangguran dan terbatasnya tenaga yang dibutuhkan dalam suatu instansi, tentu lebih membutuhkan tenaga kerja yang kompeten dan mempunyai daya saing. Kecilnya motivasi masyarakat untuk mandiri, dan tak termotivasi untuk bekerja keras sehingga, tak ada relevansi dalam pengembangan program untuk kelengkapan hidup untuk mempersiapkan tenaga ahli dibidangnya.
Lantas, karena generasi ini tak mempunyai visi untuk selangkah maju dan terdepan dalam prestasi pun membuat kesembrawutan sistem pendidikankah atau generasi ini merasa bangga dijajah sehingga, hanya melahirkan generasi-generasi pesimis yang hanya mengharapkan kesenangan tanpa ada motivasi untuk mandiri. Budaya feodal tak hanya mengerogoti sistem dan pola pikir generasi kita. Bagi mereka, kreativitas bukanlah ajang yang membuat diri kita maju.
Itulah, kelemahan bangsa ini terutama generasi muda. Mereka lebih senang antri dengan panasnya matahari, dan derasnya hujan. Sementara, program pengentasan dan kemiskinan menfasilitasi pendidikan keterampilan diantaranya kesetaraan, kecakapan hidup yang nantinya akan berguna bagi masyarakat. Perguruan Tinggi sebagai pendidikan formal berbasis kesetaraan tak sepenuhnya melahirkan sarjana-sarjana yang memiliki kompetensi dibidangnya. Sedangkan, si pencari kerja pun dituntut untuk memiliki kecakapan hidup. Pola implementasi harus relevansi dengan kecakapan hidup disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Untuk mengatasi pengangguran diperkotaan, dan diwilayah maka dibutuhkan keterampilan.
Padahal, kurikulum dalam pendidikan formal bersifat baku sedangkan pendidikan yang berbasis keterampilan akan melahirkan generasi yang mandiri, berpenghasilan, serta mengubah sikap mental dan perilaku.

Mental Kuli
Namun, tak banyak generasi kita yang mengerti. Umumnya, para sarjana kita tak mempunyai motivasi untuk mandiri. Bagi mereka, lebih baik menjadi PNS karena sebagian besar merupakan cita-cita. Generasi-generasi kita akhirnya hanya mempunyai mental kuli dan berwatak pesimis. Sikap mental ini memang sudah lama tertanam dibenak mereka.
PNS dinegeri ini tidak terlalu istimewa dibanding pekerja lainnya. Kondisi ini erat juga dengan sikap kerja dan sikap mental dalam menghadapi persaingan. Memang, PNS sebuah pekerjaan mulia. Namun, tidak demikian di Malaysia yang rata-rata kehidupan guru terjamin. Lantaran, negeri itu memuliakan guru sebagai tenaga pengajar. Wajar, karena mereka tidak mempunyai sikap dan mental yang menghargai prestise. Haruskah, kreativitas hilang, demi kedudukan seorang PNS?.


***Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris, bergiat dalam penulisan Pusindok dan MPM KM UNAND Periode 2007/2008

No comments: