Thursday, December 13, 2007

Home Schooling dan Formal Schooling
Oleh: Elsya Crownia*


Kelihatannya hampir setiap orang prihatin atas rendahnya mutu pendidikan di negeri ini. Selain itu, banyak kita temui anak-anak yang lulus SMP/ SMA yang bingung akan tujuan dan arah hidupnya bahkan, ironisnya seolah-olah mereka kehilangan jati dirinya. Hendak meneruskan kemana?. Itulah sepenggal gambaran pendidikan di negeri ini, bangsa ini seolah-olah tak larut dari masalah SDM. Justru yang diandalkan ahli-ahli dari luar negeri, sedangkan SDM yang ada di negeri ini sama sekali tak tersentuh oleh Pemerintah. Penulis tak bermaksud untuk menghakimi atau mengadili, selama bertahun-tahun penulis menuntut ilmu di negeri ini, penulis selalu merasa prihatin terhadap teman-teman seperjuangan. Mereka kerap kali kehilangan rasa percaya diri dan minimnya dukungan dari lembaga pendidikan dalam memaksimalkan kemampuan para pelajar. Tak heran, jika banyak para pengangguran berjamuran disudut-sudut kota dan desa karena mengimpikan gaji yang tinggi, bukan melihat usaha dan kenapa orang-orang bisa berhasil.
Memang, akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap bakat dan minat para pelajar akibatnya banyak yang ragu-ragu dalam menentukan arah hidupnya. Misalnya, dengan minimnya keterampilan dan kemampuan para siswa hingga akhirnya mereka tak terarah. Baru-baru ini, di Indonesia telah diterapkan sekolah baru yaitu home schooling, umumnya telah diterapkan oleh kaum elit ibukota dan para selebritis. Mereka menganggap bahwa pendidikan home schooling lebih praktis bahkan membantu orang tua mengarahkan anak-anaknya. Menurut data yang penulis temukan di beberapa media massa menyatakan bahwa anak-anak mereka lebih percaya diri, terarah, dan keuntungan home schooling antara lain siswa dapat bermain sambil belajar (50% untuk belajar dan 50% bermain; berguna dalam pengembangan daya tangkap dan saraf motorik siswa) otomatis di lingkungan masyarakat mereka tidak akan terlalu canggung. Artinya, dalam dunia pendidikan tidak hanya belajar secara terus menerus tetapi, mereka juga diajarkan dalam mengaktualisasikan diri di lingkungan sekolah dan masyarakat.Sedangkan, formal schooling masih terikat dengan sistem kompetisi, KBK, CBSA, dan lain sebagainya. Memang, guru membuat proker demi kelancaran tugasnya, selain itu guru diharapkan dapat memahami karakter siswa/i. Karena menurut penulis, siswa/i di formal school mempunyai perbedaan karakter dan minat. Yang menjadi pertanyaan penulis, bagaimana peran guru dan orang tua dalam mengarahkan bakat dan minat terhadap anak didiknya. Tak heran, mata pelajaran itu sendiri ditentukan oleh guru dan sekolah. Setiap harinya kita dituntut untuk mengambil 6 mata pelajaran dalam sehari. Sau permasalahan dalam sistem ini adalah menyebabkan kebuntuan dan kebosanan yang dialami oleh anak-anak. Wajar, bila kita temui kenakalan remaja disana-sini. Pun, tuntutan dalam mencapai nilai, tanpa ada pembekalan dan keterampilan. Setiap tahun, anak-anak dituntut untuk selalu berpikir keras. Meskipun demikian, formal schooling mampu memberikan pembelajaran sosialisasi, aktualisasi diri. Itu pun, hanya sedikit diminati oleh para siswa. Umumnya, mereka justru ingin lepas dari sistem yang cendrung menentukan dan memaksa sehingga, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk belajar dan mengajar (misalnya, aktulisasi dalam berbagai bidang) dalam mengali dan mengasah bakat dan minat, masih dirasakan kurang. Karena, sistem pendidikan sekolah formal baik itu sekolah dan perguruan tinggi masaih bersifat tuntutan. Tak heran, jika banyak kita temui kasus kriminalitas, seks bebas, kasus narkoba, dan lain sebagainya. Karena, mereka masih menganggap, sekolah adalah tempat untuk belajar saja, namun kurang aktualisasi dan pengembangan diri. Apalagi dalam mengembagkan kreatifitas, dan inovasi masih mereka perhitungan. Seolah-olah sistem pendidikan hanya menuntut siswa harus begini dan begitu. Sedangkan, masih terasa minim aktualisasi diri dan dalam pengambilan jurusan ke pendidikan tinggi, mereka justru semakin kebingungan.
Maraknya pelaksanaan sekolah rumah (home schooling), yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak. Anak-anak didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu dalam menguasai pengetahuan/ keterampilan tertentu diberikan dalam proses belajar privat. Pelaksanaan sekolah rumah yang dilakaukan oleh keluarga untuk keperluan anaknya sendiri, yang diwujudkan secara kologial antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka.
Apakah dengan berjamurnya home schooling, ini merupakan reaksi personal terhadap pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa ini serba kacau dan penuh keidak pastian. Wajar bila orang tua mengharapkan keturunannya mendapatkan pendidikan yang memadai bagi kehidupan masa depan. Hal ini jelas tercermin dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa, Pemerintah Negara Indonesia dibentuk antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah rumah dapat dibuktikan sebagai awal kegagalan misi pendidikan pemerintah Indonesia. Sedangkan, pendidikan privat jenis ini makin marak dan menjadi pengganti sekolah formal, dalam jangka panjang. Nantinya, akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat.
Sedangkan, pendidikan formal yang telah diusahakan oleh pemerintah, termasuk di negara maju, tidak akan memuaskan kehendak orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus anak, misalnya anak tersebut berbakat pada bidang musik, atau kegiaan positif-didaktis, jadi orangtua mendatangkn guru musik ke sekolah. Atau upaya meningkatkan daya tangkap anak yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran terntentu maka, orangtua berkewajiban untuk membimbing anak-anaknya. Pembelajaran sekolah rumah (family education) sebagi pengganti formal education, merupakan pelengkap dalam dunia pendidikan. Berdasarkan pengamatan pendidikan Barat, terkesan bahwa ibu-ibu Jepang disebut juga “education mama” disini para ibu-ibu secara terus menerus mendampingi anak-anaknya baik itu ke sekolah maupun kursus, bahkan mereka pun turut mengantarkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Begitu eratnya kerja sama orangtua dalam pendidikan sekolah formal. Orang tua seharusnya sadar akan perannya sebagai guru kedua di rumah setelah ia mengantarkan anaknya di sekolah formal.
Sesungguhnya, apabila kita cermati lebih lanjut. Home schooling justru membnatu anak-anak dengan masalah psikologis, ekonomi, dan geografi. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dapat diketahui terhadap sekolah formal, ternyata hanya 70% anak-anak mengalami stres, depresi akibat pendidikan dijalani atau school phobia sehingga, mereka banyak kehilangan waktu untuk mencari jati diri mereka. Padahal, puncak kreatifitas anak di usia 4-5 tahun. Kak Seto mencontohkan Amerika Serikat, akibat school phobia, saat ini ada sekitar 1,8 juta anak yang belajar dengan sistem home schooling dapat diperkirakan meningka hingga juta. Wajar bila kak Seto menyambut baik alternative school ini, dalam memacu kreatifitas anak dan peningkatan SDM. Home Schooling, kata kak Seto, harus berstandar isi dan kompeensi yang sama dengan sekolah formal, agar siswa bisa mengikutievaluasi nasional model ujian nasional. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu mereka dapat melanjutkan kejenjang sekolah formal sekolah tinggi. Maka, hasil evaluasi tersebut digunakan.
Dengan tingginya, tuntutan dalam dunia pendidikan formal biasanya para siswa dapat mengalami depresi, stres, dan struggle. Begitu banyak kasus dalam dunia pendidikan yang seharusnya tidak terjadi di negeri ini, khususnya Ranah Bundo ini. Sehingga, menunjukkan ketimpangan dalam dunia pendidikan. Namun, kalau sistem ini lebih menunjang kreatifitas siswa, mungkin dapat pula diterapkan dalam sekolah formal sehingga, sekolah formal tak dijadikan lagi sebagai penjara dalam pendidikan. Begitu pentingnya, dalam membina keakraban antara guru dan siswa dengan mengadakan diskusi ringan, sehingga mampu mengajarkan kepekaan siswa terhadap lingkungannya. Kepekaan siswa terhadap permasalahan dalam masyarakat, saat ini muali dirasakan kurang akibat tuntutan dalam dunia pendidikan yang begitu berat.
Kalau dilihat, dari sisi psikologis dan ekonomis semakin lama biaya pendidikan malahan semakin bertambah mahal. Bahkan, gaji guru pun tidak dapat menukupi untuk membiayai pendidikan.Maju dan mundurnya pendidikan, bergantung pada guru. Tidak hanya dari segi kualitas namun juga gaji yang diterima seharusnya sepadan. Sungguh miris, nasib bangsa ini. Guru pun tidak terperhatikan. Padahal, ada beberapa tipe guru cendikia yaitu guru yang selalu mengadakan pengembangan atas ilmu yang diajarkan, textbook adalah guru yang selalu mengandalkan buku-buku tanpa pengembangan dan aktualisasi dari ilmu ( biasanya jenis guru seperti ini mampu menyebabkan siswa depresi dan cepat bosan), dan guru yang hanya mencari pangkat dan jabatan tanpa memikirkan kualitas anak didiknya. Jika, kita hanya memikirkan akan prestise dan kualitas hidup, lantas apakah mungkin negeri ini akan keluar dari krisis SDM yang mengakar hingga sekarang ini. Sudah, sewajarnya bila nasib dan metode pengajaran guru diperhatikan, hal ini juga berguna dalam meningkatkan kualitas guru sebagai pendidik.

*Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Forum Lintas Ilmu dan Labor Penulisan Kreatif, Fakultas Sastra, Universitas Andalas.

No comments: