Thursday, January 3, 2008

Edisi Jum'at, 04 Januari 2008
Cari Berita :

Data / Seni dan Budaya
Berhala dan Idola
Minggu, 17-Juni-2007, 08:09:00
Telah dibaca sebanyak 306 kali

Menurut teori moral Kohlberg, masa muda digolongkan ke dalam tahap konvensioanl. Pada masa ini, biasanya akan mereka akan menyadari bahwa ada dunia lain di luar dirinya. Selanjutnya, kesadaran akan adanya orang lain dan lingkungan lain akan lebih luas di luar dirinya itu maka dibutuhkan penyesuaian diri.
Biasanya, pada masa konvensional ini, secara psikologis, seorang muda akan menjadi pribadi yang konfromis, maka, dibutuhkan sosok seorang idola.Sedangkan, menuru teori identitas Erikson, masa muda merupakan masa kekaburan identitas atau kehilangan identitas. Biasanya, pada masa ini anak muda masih mencari pegangan. Maka ia membutuhkan sosok untuk menyemangatinya.

Secara etimologis, idola berasal dari kata benda bahasa Latin, Idolium yang artinya orang halus, bayangan, hantu, arca berhala, dan berhala. Sedangkan menurut kamus Webster, Oxfort istilah idola didefinisikan sebagai penyembah Tuhan atau menghubungkan sesuatu berdasarkan imej ketuhanan.Isilah diva yang dikaitkan pula dengan Tuhan atau dewa agama Hindu dan Budha. Pada masa sekarang ini istilah idola sering dikaitkan dengan para diva, musisi, grup band, malahan pemimpin sering mengaitkan idola dengan Nabi Muhammad SAW.Naluri remaja sering diwarnai dengan sikap ingin meniru, mencontoh, dan mengagumi seseorang.Remaja menjadi belajar dengan cara meniru dan menontoh pengalaman orang lain, karena bentuk peniruan yang matang menyebabkan mereka tetap meneruskan tradisi tersebut.

Dalam tradisi Islam mecontoh diperbolehkan apabila yang dijadikan contoh tersebut dapat membawa manfaat bagi diri kita. Disamping itu menjadikan contoh dan meneladani sifat yang memang pantas untuk diteladani.Nabi Muhammad merupakan sosok yang patut untuk dicontoh dan diteladani. Pada dirinya terdapat watak dan kepribadian Rasulullah tidak sampai kepada tahap pemujaan atau menyamakan diri dengan Tuhan atau menimbulkan rasa penyembahan yang sangat luar biasa, Nabi hanyalah manusia biasa yang sama seperti kita dan Allah memberikannya kelebihan supaya ia menjadi sumber ikutan untuk diteladani terhadap zamannya dan juga manusia kemudian.

Sesungguhnya konsep idola berlawanan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasullulah. Beliau sangat menentang menyembah berhala karena berhala tidak akan mengerti apa yang dirasakan oleh manusia. Berhala hanyalah benda mati, yang tidak dapat mendatangkan manfaat bagi kita. Makanya, berhala baru yang sering dimodifikasikan dengan idola.Mungkin kita agak tercengang melihat anak muda dan remaja begitu histeris melihat konser yang bertajuk “ American Idol” dan “Indonesian Idol”. Perasaan kita sering diaduk-aduk bahkan gemas ingin bertemu dengan sang idola. Apabila kita mendengar kata idol, tetapi tidak pernah mengali lebih dalam makna yang sesungguhnya.

Dalam konsep pemaknaan, idola dalam bahasa Melayu lantaran bunyinya hampir sama. Sedangkan menurut takrifan kamus Oxford (edisi ketiga), idol dalam bahasa Inggris diidentikkan dengan patung, pujaan, orang atau benda yang terlalu disanjung-sanjung yang cendrung menjurus dengan pemujaan berhala. Dilihat jelas dalam terbitan kamus Oxford, berikut idolatry berarti penyembahan berhala, idolater penyembah berhala, musyrikin, idolatruos artinya (bersifat) menyembah atau memuja, idolize (terlampau) menyanjung, idolazion artinya penyembahan, pemujaan.

Pemaknaan kata idola pada masa sekarang ini hanya digambarkan berdasarkan sifat yang terlalu tasub, menyembah, memuja, dan terlalu menyanjung sesuatu yang bersifat hidup atau dalam makna lain menyembah berhala atau patung. Acara yang dikemas lewat American Idol, kemudian ditiru oleh Indonesia dalam kemasan Indonesian Idol adalah bentuk penjajahan baru. Yang konon dalam acara tersebut para pencari bakat mencari potensi-potensi remaja Indonesia, acara tersebut sontak menarik ribuan belia.Idol kabarnya dijadikan sebagai reality show di 20 negara, dimana dalam acara tersebut seseorang akan dipoles menjadi bintang (from zero to zero) akhirnya dapat membuat album sendiri dan disponsori oleh label ternama seperti Sony Music Indonesia, IMI, dan sebagainya.

Indonesian Idol tak ubahnya sebagai bentuk fenomena model baru. Acara yang di trademark 19 Television Limited dan Fremantle Media Operation BV serta diproduseri oleh Simon Fuller ini mampu menghipnotis remaja Indonesia. Tak dinyana malahan para ABG rela berantrian dan berdesak-desakan diantara teriknya mentari dan derasnya hujan. Mereka sering dijebak dengan angan-angan kehidupan glamour dan popularitas dengan instan. Sehingga, para ABG ingin sekalidi puja-puja dan bahkan di dewakan oleh fansnya.Kalau dilihat fenomena masyarakat sekarang, polah tingkah para idola yang sering dipuja-puja dan disanjung-sanjung. Konon, para idola tersebut telah dikemas. Quraisy modern yang dikemas dengan begitu rapi, malahan dipuji-puji . Parahnya lagi tingah laku idola lansung ditiru (imitated habit).

Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, memandang bahwa hal tersebut tidak bertentangan dengan agama.Padahal kalau dikaji lebih dalam lagi, jelas pemujaan dan penyanjungan terhadap manusia dapat di katakan musyrik. Hal tersebut tercantum dalam surat An Nisa ayat 65, dan surat Al Ahzab ayat 21.Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Indonesian Idol adalah jiplakan dari American Idol, dalam berpakaian pun para kontestan dipermak dengan American style dan American dream yang selanjutnya akan dilanjutkan dalam kontes World Idol. Padahal kita mengetahui bahwa Indonesian Idol sama dengan penyembahan berhala atau jahil.

Yang menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa masyarakat kita bangga diperbodohkan dengan acara-acara bertajuk idola?. Amat mengherankan jika kita menyaksikan para kontestan yang menangis dan sedih setelah dinyatakan gagal atau berhasil ke Jakarta. Kadang kita tercengang dengan prilaku mereka yang kecewa bahkan mencaci maki para juri ( tidak ada rasa menghormati dan menghargai).Acara-acara ini menghasilkan generasi muda ( degradasi moral) bahkan tidak menghargai dan menghargai kegagalan. Sebagaimana kata orang bijak “ jadikan kegagalan sebagai awal keberhasilan, dan belajarlah engkau dari kesalahan maka akan kau dapatkan kebenaran).Elsya Crownia, Mahasiswi Sastra Inggris, tergabung dalam FLI dan LPK, Fakultas Sastra, Universitas Andalas

No comments: