hursday, December 13, 2007
Anak Minang “Gaul”Oleh: Elsya Crownia
Dizaman modernisasi manusia dihadapkan dalam suatu permasalahan .Permasalahan kebangsaan ,masalah krisis multidemensi,krisis identitas. Identitas adalah suatu perwujudan eksistensi diri,berarti manusia dituntut agar selalu menuntut ilmu.Ilmu dalam konteks pendidikan.Peradaban dalam dunia pendidikan menuntut manusia untuk menggunakan rasio.Misalnya,masalh identitas pemuda Minangkabau adalah sesuatu yang patut kita cermati sebagaimana yang kita ketahui masyarakat .Sementara budaya yang mereka adopsi adalah budaya trend setter, alias budaya para selebritis seakan-akan mereka terlalu hanyut oleh opini-opini mereka terhadap budaya.
Meskipun mereka mengetahui syarak, hanyalah sebuah wacana,wacana tanapa konsep.Bahkan,mereka bangga menenteng gelar “anak gaul”.Sebenarnya,apa arti “gaul”.Gaul adalah memperluas pergaulan,tetapi “gaul”konteks anak muda Minang sendiri adalah mentrasformasi budaya asing tanpa mengindahkan norma-norna.”Buat apa kita bicara tentang agama,sementara kita melanggarnya”.Bahkan,generasi muda Minang disungguhkan dengan sesuatu yang ekstrim,pergaulan bebas,dan perkumpulan anak-anak punk.
Anak muda Minang dalam kehidupannya yang memahami agama pun ada yang menyimpang dari pemahaman mereka. Mereka berpikir independent misalnya ‘anak gadis’ cerita tentang percintaan saat menemukan sang pujaan hati,kalau putus dibawa pergi.Sementara’pemuda Minang” terlalu perfect memandang sang gadis harus seksi,cantik,necis,bahkan menggairahkan.Kultural budaya Minang tidak terindahkan,karakter mereka cendrung dipengaruhi oleh nafsu dan gaya hidup yang menurut mereka benar.Namun,kadangkala kebenaran tidak dapat diasumsikan dengan emosional .Bahkan,jarang sekali mereka berpikir secara terbuka justru cendrung skeptis dengan konsep-konsep yang hedonistis.Peradaban memang maju,sensitifitas terhadap lingkungan pun begitu tipis .Icon anak muda sekarang ini terlalu membahayakan.Bahkan pengawasan dalam lingkungan mereka longgar.
Maksudnya,tidak mengetahui atau memperketat pengawasan dari orang tua,orang muda Minang terbawa dalam arus budaya dan mereka mengalami cultural sock sehingga, tidak mampu men-filter benar dan salah.
Pemahaman anak Minangkabau (tidak bangga dengan Minang),bahkan sikapnya mencerminkan “sikap kerbau” yang suka menyerobok apa pun dihadapannya. Pandangan mereka datar,bahkan menyukai sesuatu berbau ‘seks’,ini jelas menandakan generasi muda mengalami dekadensi moral.Moral dikesampingkan nafsu telah menjadi Tuhan.Seakan Tuhan,enggan berbicara Iblis pun tertawa.
“Modern n Gaul” ,apa sebenarnya modern,modern dengan menenteng HP baru ,main game dan membuang waktu tanpa ada segengam ilmu.Ilmu hanya dibawa lalu yang penting ,dapat kecengan baru. Dunia semakin kacau ,para pemuda ikut kacau dengan budaya mereka .Sebenarnya,hal tersebut menunjukkan bahwa anak muda yang berkoar-koar “ gaul dan modern” hanyalah seonggok komunitas tanpa identitas.
Meskipun para wisatawan luar negeri datang ,mereka malah melotot”wow seksi” .Berarti pikiran anak muda sekarang pada umumnya terkontaminasi oleh virus-virus syahwat.
“Syarak dan Kitabullah “ adalah pelengkap,bukan sebagai media untuk berpikir “tentang falsafah”.Mereka dibuai dengan kemudahan sehingga menjadi manja,malas,untuk berbuat.Walau berbuat sesuatu itu hanyalah formalitas .
Hal tersebut ,dapat kita temui didunia kampus .Para pemuda Minang sendiri cendrung men-Tuhankan “ego”.Dan tidak dapat melihat lebih dalam dan radikal mengenai filosofi kehidupan baik itu bermasyarakat.Ironinya,apabila ada salah satu yang mendasari pemahaman “falsafah” cendrung dicemooh dan dicerca.
Pola pikir anak muda yang pragmatis dan skeptis merupakan faktor utama berjamurnya pengganguran.
Posted by Gadih-Batusangkar at 1:39 AM
0 comments:
Anak Minang “Gaul”Oleh: Elsya Crownia
Dizaman modernisasi manusia dihadapkan dalam suatu permasalahan .Permasalahan kebangsaan ,masalah krisis multidemensi,krisis identitas. Identitas adalah suatu perwujudan eksistensi diri,berarti manusia dituntut agar selalu menuntut ilmu.Ilmu dalam konteks pendidikan.Peradaban dalam dunia pendidikan menuntut manusia untuk menggunakan rasio.Misalnya,masalh identitas pemuda Minangkabau adalah sesuatu yang patut kita cermati sebagaimana yang kita ketahui masyarakat .Sementara budaya yang mereka adopsi adalah budaya trend setter, alias budaya para selebritis seakan-akan mereka terlalu hanyut oleh opini-opini mereka terhadap budaya.
Meskipun mereka mengetahui syarak, hanyalah sebuah wacana,wacana tanapa konsep.Bahkan,mereka bangga menenteng gelar “anak gaul”.Sebenarnya,apa arti “gaul”.Gaul adalah memperluas pergaulan,tetapi “gaul”konteks anak muda Minang sendiri adalah mentrasformasi budaya asing tanpa mengindahkan norma-norna.”Buat apa kita bicara tentang agama,sementara kita melanggarnya”.Bahkan,generasi muda Minang disungguhkan dengan sesuatu yang ekstrim,pergaulan bebas,dan perkumpulan anak-anak punk.
Anak muda Minang dalam kehidupannya yang memahami agama pun ada yang menyimpang dari pemahaman mereka. Mereka berpikir independent misalnya ‘anak gadis’ cerita tentang percintaan saat menemukan sang pujaan hati,kalau putus dibawa pergi.Sementara’pemuda Minang” terlalu perfect memandang sang gadis harus seksi,cantik,necis,bahkan menggairahkan.Kultural budaya Minang tidak terindahkan,karakter mereka cendrung dipengaruhi oleh nafsu dan gaya hidup yang menurut mereka benar.Namun,kadangkala kebenaran tidak dapat diasumsikan dengan emosional .Bahkan,jarang sekali mereka berpikir secara terbuka justru cendrung skeptis dengan konsep-konsep yang hedonistis.Peradaban memang maju,sensitifitas terhadap lingkungan pun begitu tipis .Icon anak muda sekarang ini terlalu membahayakan.Bahkan pengawasan dalam lingkungan mereka longgar.
Maksudnya,tidak mengetahui atau memperketat pengawasan dari orang tua,orang muda Minang terbawa dalam arus budaya dan mereka mengalami cultural sock sehingga, tidak mampu men-filter benar dan salah.
Pemahaman anak Minangkabau (tidak bangga dengan Minang),bahkan sikapnya mencerminkan “sikap kerbau” yang suka menyerobok apa pun dihadapannya. Pandangan mereka datar,bahkan menyukai sesuatu berbau ‘seks’,ini jelas menandakan generasi muda mengalami dekadensi moral.Moral dikesampingkan nafsu telah menjadi Tuhan.Seakan Tuhan,enggan berbicara Iblis pun tertawa.
“Modern n Gaul” ,apa sebenarnya modern,modern dengan menenteng HP baru ,main game dan membuang waktu tanpa ada segengam ilmu.Ilmu hanya dibawa lalu yang penting ,dapat kecengan baru. Dunia semakin kacau ,para pemuda ikut kacau dengan budaya mereka .Sebenarnya,hal tersebut menunjukkan bahwa anak muda yang berkoar-koar “ gaul dan modern” hanyalah seonggok komunitas tanpa identitas.
Meskipun para wisatawan luar negeri datang ,mereka malah melotot”wow seksi” .Berarti pikiran anak muda sekarang pada umumnya terkontaminasi oleh virus-virus syahwat.
“Syarak dan Kitabullah “ adalah pelengkap,bukan sebagai media untuk berpikir “tentang falsafah”.Mereka dibuai dengan kemudahan sehingga menjadi manja,malas,untuk berbuat.Walau berbuat sesuatu itu hanyalah formalitas .
Hal tersebut ,dapat kita temui didunia kampus .Para pemuda Minang sendiri cendrung men-Tuhankan “ego”.Dan tidak dapat melihat lebih dalam dan radikal mengenai filosofi kehidupan baik itu bermasyarakat.Ironinya,apabila ada salah satu yang mendasari pemahaman “falsafah” cendrung dicemooh dan dicerca.
Pola pikir anak muda yang pragmatis dan skeptis merupakan faktor utama berjamurnya pengganguran.
Posted by Gadih-Batusangkar at 1:39 AM
0 comments:
No comments:
Post a Comment