Jika Rasa Percaya Diri Hilang, Hendak Kemana Diri Dibawa
Oleh; Elsya Crownia*
Setelah kita menyelesaikan perkuliahan mungkin kita akan berpikir, tindakan apa yang akan kita lakukan nantinya. Otomatis, mahasiswa akan berpikir bekerja dan diangkat menjadi pegawai. Tetapi, haruskah menjadi guru atau karyawan. Penulis merasa malas menanggapi hal ini. Kenyataannya, demikianlah dunia nyata yang penulis hadapi. Saat penulis bertanya pada senior-senior atau teman-teman bahwa kuliah adalah orientasi kerja bukan lagi kuliah sebagai media untuk mengembangkan diri di tengah masyarakat. Pertentangan ide dan kreativitas yang cendrung melahirkan permusuhan tetapi tidak dapat menawarkan solusi untuk masyarakat.
Saat penulis KKN di nagari terpencil di Kabupaten Solok, sebagian mahasiswa tidak mampu memberikan pemahaman akan ilmu yang telah didapat di lingkungan kampus, padahal masyarakat disana sangat membutuhkan kreativitas, ide, gagasan mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Memang, 99% mahasiswa Study Oriented (SO) dan hanya berorientasi pada dunia kerja bukan kreativitas yang menghasilkan pekerjaan. Beribu-ribu kasus penulis menemukan bahwa mahasiswa umumnya egois dan tidak mau memikirkan keadaan yang dihadapi masyarakat. Hal tersebut merupakan kasus yang tidak pernah terpecahkan hingga abad 21 ini. Dahulu, penulis membayangkan bahwa menjadi mahasiswa berarti kebanggaan karena dipundak mahasiswa sendiri terdapat tanggung jawab untuk mengembangkan ilmunya ditengah masyarakat luas.
Kenyataannya, paradigma mahasiswa seolah-olah menyalahkan keadaan berada di jurusan yang salahlah atau tidak mempunyai masa depanlah. Padahal, masa depan ditentukan oleh pilihan misalnya mahasiswa Sastra Inggris mengembangkan ilmu tak sekedar menjadi guru bahasa Inggris tetapi seharusnya mampu menjadi pengamat sastra inggris, penerjemah agar dapat menjadi bahan pelajaran. Atau Sejarah tidak harus menjadi guru namun, seharusnya mahasiswa sejarah berpikir lebih kritis dan tajam mengamati fenomena yang terjadi di tengah-tengah masayarakat.
Apabila kalangan mahasiswa yang terlalu bangga dengan idealis dan gaya yang akhirnya menyulut ke-egoisan sangat membahayakan peradaban. Hemat penulis, sejarah mempunyai peluang yang besar dalam dunia kerja asalkan mereka (baca ; mahasiswa ) punya visi dan misi untuk mengembangkan ilmu baik dalam bidang penelitian, kepariwisataan, media. Yang dibutuhkan hanya satu, semangat untuk memperbaiki diri, mengembangkan diri dan percaya diri. Penulis yakin dimana pun kita berada kita pasti akan dibutuhkan orang lain, asalkan kita mampu mengelola emosi, mengembangkan ilmu bukan mengabaikan ilmu yang telah kita dapatkan. Janganlah, style menjadi tolak ukur kita seharusnya intelektual muda berlomba-lomba untuk menyumbangkan ide dan gagasannya. Agar kita merasa bahwa kita benar-benar mahasiswa bukan maha sewa yang hanya mampu berlomba-lomba bergaya sehingga kampus hanya didiami kalangan model yang tidak jelas arahnya kemana.
Perlu Konsep Diri
Konsep Diri Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua, sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Artikel berikut akan mengulas tentang konsep diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Artikel berikut akan mengulas tentang konsep diri, apa dan bagaimana konsep diri berpengaruh terhadap munculnya problem yang dialami manusia sehari-hari. Konsep Diri Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang Proses Pembentukan Konsep Diri Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb - dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif. Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai. Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, seperti : Pola asuh orang tua Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi faktor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak sayang. Kegagalan Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna. Depresi Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif.
Jadikanlah, dirimu mahasiswa yang bercahaya dan menyinari dengan ilmu sehingga emosi tak menyulut kearah negatif, wahai pemuda dipundakmu ada sebuah tanggung jawab.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Komunitas HijauMuda, dan Citra Budaya Indonesia, Padang.
Oleh; Elsya Crownia*
Setelah kita menyelesaikan perkuliahan mungkin kita akan berpikir, tindakan apa yang akan kita lakukan nantinya. Otomatis, mahasiswa akan berpikir bekerja dan diangkat menjadi pegawai. Tetapi, haruskah menjadi guru atau karyawan. Penulis merasa malas menanggapi hal ini. Kenyataannya, demikianlah dunia nyata yang penulis hadapi. Saat penulis bertanya pada senior-senior atau teman-teman bahwa kuliah adalah orientasi kerja bukan lagi kuliah sebagai media untuk mengembangkan diri di tengah masyarakat. Pertentangan ide dan kreativitas yang cendrung melahirkan permusuhan tetapi tidak dapat menawarkan solusi untuk masyarakat.
Saat penulis KKN di nagari terpencil di Kabupaten Solok, sebagian mahasiswa tidak mampu memberikan pemahaman akan ilmu yang telah didapat di lingkungan kampus, padahal masyarakat disana sangat membutuhkan kreativitas, ide, gagasan mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Memang, 99% mahasiswa Study Oriented (SO) dan hanya berorientasi pada dunia kerja bukan kreativitas yang menghasilkan pekerjaan. Beribu-ribu kasus penulis menemukan bahwa mahasiswa umumnya egois dan tidak mau memikirkan keadaan yang dihadapi masyarakat. Hal tersebut merupakan kasus yang tidak pernah terpecahkan hingga abad 21 ini. Dahulu, penulis membayangkan bahwa menjadi mahasiswa berarti kebanggaan karena dipundak mahasiswa sendiri terdapat tanggung jawab untuk mengembangkan ilmunya ditengah masyarakat luas.
Kenyataannya, paradigma mahasiswa seolah-olah menyalahkan keadaan berada di jurusan yang salahlah atau tidak mempunyai masa depanlah. Padahal, masa depan ditentukan oleh pilihan misalnya mahasiswa Sastra Inggris mengembangkan ilmu tak sekedar menjadi guru bahasa Inggris tetapi seharusnya mampu menjadi pengamat sastra inggris, penerjemah agar dapat menjadi bahan pelajaran. Atau Sejarah tidak harus menjadi guru namun, seharusnya mahasiswa sejarah berpikir lebih kritis dan tajam mengamati fenomena yang terjadi di tengah-tengah masayarakat.
Apabila kalangan mahasiswa yang terlalu bangga dengan idealis dan gaya yang akhirnya menyulut ke-egoisan sangat membahayakan peradaban. Hemat penulis, sejarah mempunyai peluang yang besar dalam dunia kerja asalkan mereka (baca ; mahasiswa ) punya visi dan misi untuk mengembangkan ilmu baik dalam bidang penelitian, kepariwisataan, media. Yang dibutuhkan hanya satu, semangat untuk memperbaiki diri, mengembangkan diri dan percaya diri. Penulis yakin dimana pun kita berada kita pasti akan dibutuhkan orang lain, asalkan kita mampu mengelola emosi, mengembangkan ilmu bukan mengabaikan ilmu yang telah kita dapatkan. Janganlah, style menjadi tolak ukur kita seharusnya intelektual muda berlomba-lomba untuk menyumbangkan ide dan gagasannya. Agar kita merasa bahwa kita benar-benar mahasiswa bukan maha sewa yang hanya mampu berlomba-lomba bergaya sehingga kampus hanya didiami kalangan model yang tidak jelas arahnya kemana.
Perlu Konsep Diri
Konsep Diri Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua, sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan meyakini persepsinya yang belum tentu obyektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Artikel berikut akan mengulas tentang konsep diri, dan hobi mengkritik diri sendiri. Artikel berikut akan mengulas tentang konsep diri, apa dan bagaimana konsep diri berpengaruh terhadap munculnya problem yang dialami manusia sehari-hari. Konsep Diri Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Orang dengan konsep diri negatif, akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika gagal, akan ada dua pihak yang disalahkan, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan bukan dipandang sebagai kematian, namun lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Orang dengan konsep diri yang positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang Proses Pembentukan Konsep Diri Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb - dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif. Konsep diri ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah. Bisa saja saat itu ia jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinannya yang positif, ia berusaha memperbaiki nilai. Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri Berbagai faktor dapat mempengaruhi proses pembentukan konsep diri seseorang, seperti : Pola asuh orang tua Pola asuh orang tua seperti sudah diuraikan di atas turut menjadi faktor signifikan dalam mempengaruhi konsep diri yang terbentuk. Sikap positif orang tua yang terbaca oleh anak, akan menumbuhkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri sendiri. Sikap negatif orang tua akan mengundang pertanyaan pada anak, dan menimbulkan asumsi bahwa dirinya tidak cukup berharga untuk dikasihi, untuk disayangi dan dihargai; dan semua itu akibat kekurangan yang ada padanya sehingga orang tua tidak sayang. Kegagalan Kegagalan yang terus menerus dialami seringkali menimbulkan pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya terletak pada kelemahan diri. Kegagalan membuat orang merasa dirinya tidak berguna. Depresi Orang yang sedang mengalami depresi akan mempunyai pemikiran yang cenderung negatif dalam memandang dan merespon segala sesuatunya, termasuk menilai diri sendiri. Segala situasi atau stimulus yang netral akan dipersepsi secara negatif.
Jadikanlah, dirimu mahasiswa yang bercahaya dan menyinari dengan ilmu sehingga emosi tak menyulut kearah negatif, wahai pemuda dipundakmu ada sebuah tanggung jawab.
***Penulis adalah mahasiswi Sastra Inggris, bergiat di Komunitas HijauMuda, dan Citra Budaya Indonesia, Padang.
No comments:
Post a Comment