KAMPUS TAK LAGI BERGEMING
Oleh : Elsya Crownia*
Fenomena kehidupan kampus identik dengan pengumulan ide, ego, dan jati diri mahasiswa. Mahasiswa sebagai calon intelektual muda seharusnya berbuat sesuatu demi bangsa dan negara. Namun, kenyataannya mitos jodoh kalau tak sampai maka kau jadi sendiri menghadapi realitas. Pun istilah setelah tamat kuliah lansung kerja kalau tak bekerja lansung menikah. Bentuk mitos-mitos yang berkembang didunia kampus menyurutkan semangat mahasiswa untuk mengembangkan diri dan berinteraksi dengan dunia luar.
Entahlah, kalangan mahasiswa hanya bercomot pada orientasi menjadi PNS dan serta merta kehilangan langkah dan arah. Apakah nanti IPK dapat menjadi masa depan? Tetapi, hendaknya perilaku mahasiswa yang cendrung berpikir dogmatis dan kolot diubah. Jangan hanya berlindung pada kerabat ( nepotisme). Mahasiswa bangga kalau mereka dapat menyelesaikan kuliah secepatnya namun dunia nyata yang menanti terlalu kejam untuk dihadapi.
Mahasiswa yang menyandang titel intelektual mempunyai peranan penting sebagai agent of social control but contrary by reality. Tajam, memang meskipun penulis berdiri dan duduk di bangku perkuliahan yang notabene kurang kritis dan kreatif mahasiswa/inya. Mereka punya pandangan ke arah akademik tanpa berorientasi untuk mengembangkan ilmu yang didapatkan dibangku perkuliahan. Ilmu hanya dipandang sebagai syarat sarjana tetapi kenyataannya mereka kebingungan dalam mencari bahan dan diam tak bergeming.
Si penentang arus, hanya mampu berkomunikasi dengan kata-kata verba. Lewat kata-kata verba yang menyatakan bahwa mahasiswa di era globalisasi ini kurang peka dengan lingkungan dan tak berminat untuk meng-aplikasikan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan. Misalnya, mahasiswa yang mengambil jurusan Sastra seharusnya menjadi seorang pengamat atau kritikus sastra. Mengingat kurangnya para kritikus Sastra di Indonesia atau mengembangkan EQ ditengah masyarakat. Sedangkan, mahasiswa yang mengambil jurusan linguistik mampu berperan di Balai Kajian Bahasa serta mengamati lingkungan sosial dari sudut kebahasaan. Seharusnya, semenjak mereka baru menginjak tanah Sastra, berpikirlah mau jadi apa!. Jangan hanya ingin cepat kerja sehingga potensi diri terabaikan.
Negeri ini sungguh miskin menciptakan intelektual cerdas dan pintar. Nyatanya, negeri tidak membutuhkan orang pintar namun yang pintar-pintar asal kerja tanpa ada dedikasi dan kompetensi dalam bidangnya. Orang yang pintar pada akhirnya hanya terpakai diluar negeri padahal, mereka dapat membangun negeri ini. Namun, apa boleh dikata, para birokrat yang duduk dibangku yang empuk pada akhirnya mempunyai peluang yang lebih besar untuk menyengsarakan rakyat, mengambil hak rakyat, dan rakyat akhirnya tersingkir.
Mahasiswa yang begitu banyak memasuki PTN/ PTS hanyalah membanggakan prestise tetapi bukan idealisme. SO bangga dengan idealisme individualis yang pada akhirnya bingung untuk meraih lahan atau dunia kerja karena pola pikir individualis dan egosentris.
Mahasiswa benar-benar terhipnotis dengan feodalis dan kolonialis, alam bawah sadar mereka telah dipengaruhi oleh kebangga yang tak humanis. Pasalnya, budaya membaca dan diskusi hanya dihadiri oleh beberapa mahasiswa. Padahal dunia membaca dan berdiskusi adalah esensi yang paling dalam perkuliahan sehingga, gagasan yang dihasilkan semakin dalam dan cemerlang unuk diketengahkan kepada masyarakat luas.
Globalisasi benar-benar menggeser budaya intelektual dikalangan mahasiswa. Abad ini mahasiswa hanya menyerahkan diri pada globalisasi, pasrah dan menyerah kalah dengan kerasnya dunia
Di Rusia, pada awal abad ke-19, muncul golongan terpelajar yang berasa kecewa dan menyerah diri kepada persekitaran buruk negara itu. Mereka digelar 'intelektual yang tidak berguna' ekoran kegagalan mereka mewujudkan atau meneruskan reformasi politik.Penindasan kerajaan juga sangat melampau dan menakutkan. Kegagalan pemberontakan 1825 mengakibatkan kerajaan Nicholas I bertindak keras. Lima orang dihukum mati dan 500 lagi dibuang ke Siberia, tanah gersang yang perit.Ramai yang bersikap liberal dan revolusioner, walau tidak terbabit dalam pemberontakan itu, juga dikenakan hukuman. Antara tahun 1832 hingga 1852, kira-kira 150,000 orang dihantar ke Siberia.Pada waktu ini, tumbuh rasa putus asa dan kecewa, 'sense of resignation', di kalangan kaum terpelajar di Rusia. Idea-idea terlarang, yang bersifat reformasi dan diilhami dari Eropah Barat, masih tersebar.Beberapa dekad sebelum itu, Eropah, Amerika Syarikat dan juga England memang rancak dengan reformasi (malah revolusi) politik. Tetapi idea ini tidak mendapat sambutan orang ramai di Rusia, tidak dipedulikan dan tidak dibaca. Pemerintah mengancam rakyat dengan tali gantung.Seorang ahli sejarah Rusia dari Poland menggambarkan gejala itu begini: 'Akibat keadaan seperti itu, muncullah orang yang tidak berguna yang menyedari bahawa aspirasi, bakat dan pengetahuannya tidak berguna dalam kehidupan bangsanya, jenis orang yang kerana malas terpaksa rosak moralnya.'Jan Kucharzewski menambah: "... individu-individu yang berfikiran dan berperasaan menentang rejim [Rusia] tersebut dan keadaan [sosial] yang menyedihkan [ini] untuk bertahan hidup, [mereka] segera menyedari bahawa mereka tidak dapat membebaskan jiwa mereka dari racun busuk yang disuntikkan [oleh] sistem itu tidak hanya kepada para pendukungnya [kerajaan Rusia], malah kepada lawan-lawannya [aktivis antikerajaan]."
Demikianlah, keadaan bangsa Indonesia saat ini, intelektual yang mudah menyerah, kurang semangat untuk mengubah keadaan bangsa ini. Wahai pemuda, berjuanglah hadapi ketertindasanmu, bangkit dan semangat!
***Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris , bergiat di Komunitas HijauMuda dan Citra Budaya Indonesia, Padang
Oleh : Elsya Crownia*
Fenomena kehidupan kampus identik dengan pengumulan ide, ego, dan jati diri mahasiswa. Mahasiswa sebagai calon intelektual muda seharusnya berbuat sesuatu demi bangsa dan negara. Namun, kenyataannya mitos jodoh kalau tak sampai maka kau jadi sendiri menghadapi realitas. Pun istilah setelah tamat kuliah lansung kerja kalau tak bekerja lansung menikah. Bentuk mitos-mitos yang berkembang didunia kampus menyurutkan semangat mahasiswa untuk mengembangkan diri dan berinteraksi dengan dunia luar.
Entahlah, kalangan mahasiswa hanya bercomot pada orientasi menjadi PNS dan serta merta kehilangan langkah dan arah. Apakah nanti IPK dapat menjadi masa depan? Tetapi, hendaknya perilaku mahasiswa yang cendrung berpikir dogmatis dan kolot diubah. Jangan hanya berlindung pada kerabat ( nepotisme). Mahasiswa bangga kalau mereka dapat menyelesaikan kuliah secepatnya namun dunia nyata yang menanti terlalu kejam untuk dihadapi.
Mahasiswa yang menyandang titel intelektual mempunyai peranan penting sebagai agent of social control but contrary by reality. Tajam, memang meskipun penulis berdiri dan duduk di bangku perkuliahan yang notabene kurang kritis dan kreatif mahasiswa/inya. Mereka punya pandangan ke arah akademik tanpa berorientasi untuk mengembangkan ilmu yang didapatkan dibangku perkuliahan. Ilmu hanya dipandang sebagai syarat sarjana tetapi kenyataannya mereka kebingungan dalam mencari bahan dan diam tak bergeming.
Si penentang arus, hanya mampu berkomunikasi dengan kata-kata verba. Lewat kata-kata verba yang menyatakan bahwa mahasiswa di era globalisasi ini kurang peka dengan lingkungan dan tak berminat untuk meng-aplikasikan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan. Misalnya, mahasiswa yang mengambil jurusan Sastra seharusnya menjadi seorang pengamat atau kritikus sastra. Mengingat kurangnya para kritikus Sastra di Indonesia atau mengembangkan EQ ditengah masyarakat. Sedangkan, mahasiswa yang mengambil jurusan linguistik mampu berperan di Balai Kajian Bahasa serta mengamati lingkungan sosial dari sudut kebahasaan. Seharusnya, semenjak mereka baru menginjak tanah Sastra, berpikirlah mau jadi apa!. Jangan hanya ingin cepat kerja sehingga potensi diri terabaikan.
Negeri ini sungguh miskin menciptakan intelektual cerdas dan pintar. Nyatanya, negeri tidak membutuhkan orang pintar namun yang pintar-pintar asal kerja tanpa ada dedikasi dan kompetensi dalam bidangnya. Orang yang pintar pada akhirnya hanya terpakai diluar negeri padahal, mereka dapat membangun negeri ini. Namun, apa boleh dikata, para birokrat yang duduk dibangku yang empuk pada akhirnya mempunyai peluang yang lebih besar untuk menyengsarakan rakyat, mengambil hak rakyat, dan rakyat akhirnya tersingkir.
Mahasiswa yang begitu banyak memasuki PTN/ PTS hanyalah membanggakan prestise tetapi bukan idealisme. SO bangga dengan idealisme individualis yang pada akhirnya bingung untuk meraih lahan atau dunia kerja karena pola pikir individualis dan egosentris.
Mahasiswa benar-benar terhipnotis dengan feodalis dan kolonialis, alam bawah sadar mereka telah dipengaruhi oleh kebangga yang tak humanis. Pasalnya, budaya membaca dan diskusi hanya dihadiri oleh beberapa mahasiswa. Padahal dunia membaca dan berdiskusi adalah esensi yang paling dalam perkuliahan sehingga, gagasan yang dihasilkan semakin dalam dan cemerlang unuk diketengahkan kepada masyarakat luas.
Globalisasi benar-benar menggeser budaya intelektual dikalangan mahasiswa. Abad ini mahasiswa hanya menyerahkan diri pada globalisasi, pasrah dan menyerah kalah dengan kerasnya dunia
Di Rusia, pada awal abad ke-19, muncul golongan terpelajar yang berasa kecewa dan menyerah diri kepada persekitaran buruk negara itu. Mereka digelar 'intelektual yang tidak berguna' ekoran kegagalan mereka mewujudkan atau meneruskan reformasi politik.Penindasan kerajaan juga sangat melampau dan menakutkan. Kegagalan pemberontakan 1825 mengakibatkan kerajaan Nicholas I bertindak keras. Lima orang dihukum mati dan 500 lagi dibuang ke Siberia, tanah gersang yang perit.Ramai yang bersikap liberal dan revolusioner, walau tidak terbabit dalam pemberontakan itu, juga dikenakan hukuman. Antara tahun 1832 hingga 1852, kira-kira 150,000 orang dihantar ke Siberia.Pada waktu ini, tumbuh rasa putus asa dan kecewa, 'sense of resignation', di kalangan kaum terpelajar di Rusia. Idea-idea terlarang, yang bersifat reformasi dan diilhami dari Eropah Barat, masih tersebar.Beberapa dekad sebelum itu, Eropah, Amerika Syarikat dan juga England memang rancak dengan reformasi (malah revolusi) politik. Tetapi idea ini tidak mendapat sambutan orang ramai di Rusia, tidak dipedulikan dan tidak dibaca. Pemerintah mengancam rakyat dengan tali gantung.Seorang ahli sejarah Rusia dari Poland menggambarkan gejala itu begini: 'Akibat keadaan seperti itu, muncullah orang yang tidak berguna yang menyedari bahawa aspirasi, bakat dan pengetahuannya tidak berguna dalam kehidupan bangsanya, jenis orang yang kerana malas terpaksa rosak moralnya.'Jan Kucharzewski menambah: "... individu-individu yang berfikiran dan berperasaan menentang rejim [Rusia] tersebut dan keadaan [sosial] yang menyedihkan [ini] untuk bertahan hidup, [mereka] segera menyedari bahawa mereka tidak dapat membebaskan jiwa mereka dari racun busuk yang disuntikkan [oleh] sistem itu tidak hanya kepada para pendukungnya [kerajaan Rusia], malah kepada lawan-lawannya [aktivis antikerajaan]."
Demikianlah, keadaan bangsa Indonesia saat ini, intelektual yang mudah menyerah, kurang semangat untuk mengubah keadaan bangsa ini. Wahai pemuda, berjuanglah hadapi ketertindasanmu, bangkit dan semangat!
***Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris , bergiat di Komunitas HijauMuda dan Citra Budaya Indonesia, Padang
No comments:
Post a Comment