Tentang Cerita Anak
Oleh : Elsya Crownia*
Pada waktu kecil, mungkin kita sering didongengkan oleh orang tua kita. Didalam dongeng itu kadangkala sangat menakutkan, bahkan membuat bulu kuduk kita merinding. Belum lagi, berkembangnya euphoria orang tua-tua yang sering melarang anaknya bermain atau pergi main jauh-jauh. Apakah itu disebut mendidik?. Sebenarnya, mendidik sama dengan memberikan contoh, bukan hanya sekedar kajian semata. Demikian pula dengan cerita anak. Sebelum kita memahami mengenai cerita anak, terlebih dahulu kita memahami pengertian dari cerita anak.
Cerita anak anak adalah cerita yang dapat membuat anak-anak berubah, mulai dari sikap, dan tingkah laku. Dalam cerita tersebut, dapat menimbulkan kesan yang mendalam, dan hasilnya tidak memberatkan. Disamping itu, dalam cerita anak, pengarang mengajak anak-anak untuk memahami sesuatu yang imajinatif, baik itu tentang dunia anak, tak lepas dari gaya bahasa anak itu sendiri. Tidak terlepas dari pesan moral yang mendidik.
Apabila kita bandingkan cerita anak luar negeri dan di negeri sendiri. Terlihat banyak perbedaan, apa yang membedakannya?. Sebenarnya, cerita anak Indonesia banyak memaparkan kultus dan mitos yang mengharuskan anak-anak manut kepada orang tua seolah-olah anak hanyalah properti atau boneka. Anak mempunyai dunianya sendiri, dan mereka butuh keamanan. Lain halnya dengan cerita anak di Eropa, yang cendrung berkisah tentang seorang anak yang berusaha untuk memahami lingkungan sekitar, tanpa menghakimi orang lain terhadap kesalahannya, serta tidak menekankan ego tetapi, bagaimana memahami orang lain. Anak-anak tidak dianggap sebagai anak, tetapi memahami proses anak itu belajar. Misalnya, Dora the Explorer, mengajarkan anak-anak untuk berpikir tentang nama benda, dan lingkungan sekitar. Atau cerita Hans Christian Endersen, Astrid Longerben yang merupakan cerita anak yang didongengkan untuk cucunya, sehingga buku tersebut laris di pasaran.
Sangat berbeda dengan di Indonesia, yang dikenal sebagai kawasan agraris sehingga, orang tua tidak dapat untuk menyempatkan diri bercerita kepada anak-anaknya. Kebanyakan ibu-ibu mendidik anak-anak untuk takut, seperti cerita hantu atau kalau durhaka pada orang tua, anak akan dikutuk jadi batu. Akibatnya, anak-anak tidak dapat mengembangkan daya imajinasinya.Selain itu, keberadaan cerita anak juga ditentukan berdasarkan usianya, meminjam kata ki kusumo kita perlu membedakan cerita anak mulai dari umur 3-5 tahun disungguhkan fabel, 5-7 tahun tentang kehidupan binatang, 7-12 tahun cerita menyungguhkan daya imajinasi seperti Charlie and the Chocolate Factory, 12-17 tahun disungguhkan dengan cerita yang sarat imajinasi dan filosofi seperti Naruto, Samurai X, Harry Potter, Eragon, dan lain sebagainya.
Mengapa cerita anak perlu dibedakan dengan tingkatan umur?. Dalam psikologi memaparkan bahwa anak-anak yang telah matang biasanya tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan luar, hal tersebut juga tidak lepas dari pemahaman anak itu sendiri. Memang, dalam membuat cerita anak tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Disamping itu, juga harus mampu memahami perilaku anak dan bagaimana dunia anak-anak itu.
Cerita anak dan pola pengasuhan orang tua akan berdampak terhadap perkembangan anak itu sendiri. Maka bagi para guru dan orang tua diharapkan untuk lebih hati-hati dalam membeli buku cerita anak. Menurut penulis, cerita anak Indonesia cendrung mengajarkan mental licik, dan penipu. Imbasnya, generasi kita tidak mempunyai mental baja. Bahkan, nuansa mistis cendrung lebih banyak ditonjolkan, daripada mendidik. Meminjam kata McClelland, bahwa dongeng-dongeng di Inggris pada awal abad 16 mengandung ‘virus” yang menyebabkan pendengarnya butuh prestasi yang kemudian disimbolkan sebagai n-Ach yang memiliki tiga unsur antara lain ; optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan tidak gampang menyerah. Tiga unsur tersebut tidak dimiliki oleh Spanyol di abad 16, muatannya cendrung meninabobokan. Dalam Teori pembangunan Dunia Ketiga, karya Arief Budiman ( Gramedia, 1995), menjelaskan lebih lanjut bahwa McClelland membutuhkan riset sejarah yang valid.
Ia mengumpulkan dokumen sastra Yunani kuno seperti puisi, naskah, drama, pidato, kisah epik. Karya-karya tersebut dinilai oleh para ahli netral. Namun, yang masih dipertanyakan apakah disana ada unsur yang memberikan semangat yang tinggi dalam suatu negeri dalam kurun waktu 25 tahun?.
McClelland juga mengumpulkan lebih dari 1300 cerita/dongeng dari pelbagai negara, dari era 1925-1950an. Setelah dikaji dan diselidiki, hasilnya menunjukkan bahwa cerita-cerita anak yang mengandung nilai n-Ach yang tinggi pada suatu negeri, selalu diikuti dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula di negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian Sangat naif dan ironis—sebagaimana yang menggejala secara umum sekian lama ini—bahwa, maaf, yang lebih ditonjolkan adalah unsur-unsur mistik (horor), “sim-salabim” (instan), fantasi, kengerian skatologis, dan semacamnya, yang tentu saja kontras dengan tiga unsur yang diandaikan dalam n-Ach McClelland: optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak gampang menyerah.
Tidak hanya dunia dongeng lisan, tetapi dunia penerbitan buku cerita anak di Yogyakarta (terutama lembaga penerbitan) juga memikul amanat demi menjawab pertanyaan tersebut. Distribusi buku-buku anak dari Yogyakarta juga tidak sebatas satu dua kota di Jawa saja, tetapi seluruh pelosok Jawa, bahkan juga ke seluruh Nusantara. Ini artinya, dampaknya bersifat nasional. Sebab, buku-buku tersebut akan dibaca oleh anak-anak di pelbagai pelosok negeri, dibacakan oleh para guru di sekolah, diceritakan oleh para orangtua menjelang tidur buah hati mereka, dari waktu ke waktu. Sangat tragis jika para orangtua, para guru terjebak di dalam ketidaksadaran, ketidaktahuan, apakah buku-buku yang mereka bacakan kepada anak didik mereka, kepada buah hati mereka, mengandung nilai n-Ach yang tinggi atau tidak.
Oleh karena itu, dalam konteks ini menjadi penting bagi orangtua, para guru, untuk memilih buku-buku cerita yang berkualitas. Mereka harus bisa membedakan, mana yang mengandung muatan nilai/pesan n-Ach yang tinggi, dan mana yang rendah atau malah tidak ada sama sekali nilai n-Ach-nya. Sebab, betapa pun, orangtua dan guru punya peran utama dalam menentukan bacaan bagi anak-anaknya; tidak mungkin anak menentukan sendiri tanpa bimbingan orangtuanya. Orangtua dan guru memiliki peran penting nan strategis untuk membentuk ketahanan anak, baik di lingkup sekolah, maupun di dalam keluarga (rumah). Tentu saja tidak hanya soal bacaan, namun juga media-media cerita lain seperti tayangan televisi, film-film, dan sejenisnya, karena di era teknologis seperti sekarang media cerita tidak hanya melalui buku.
Muatan nilai moral dalam dongeng anak, dalam buku-buku cerita anak, atau persisnya: tinggi rendah nilai n-Ach-nya, tidak akan kita lihat dampaknya dalam hitungan satu atau dua tahun mendatang, tetapi—merujuk MacClelland—dalam 25 tahun mendatang. Dengan kata lain, jika 25 tahun mendatang generasi kita lebih banyak yang bermental maling, kriminal, malas-malasan, hura-hura, fatalistik, dll, dan lebih sedikit yang kreatif, yang pantang menyerah, yang optimis, yang pemberani, dan seterusnya, maka para pendongeng, lembaga penerbitan, penulis cerita anak, para guru dan apalagi orangtua, memiliki “andil” yang besar, atau dengan kata lain, merekalah yang bertanggung jawab terhadap dosa sejarah tersebut. Oleh karena itu, semenjak detik ini pula, mereka semua dihadapkan pada tugas besar lagi suci mulia, yakni merasukkan nilai n-Ach dalam dunia cerita (dongeng), dunia tutur-tinular, baik dalam maknanya yang teoretis maupun yang praktis.
Penulis Mahasiswi Sastra Inggris, Fakultas Sastra, bergiat di Komunitas HijauMuda
Thursday, February 21, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment