Friday, February 22, 2008

Cerita

Seekor Sapi Coklat
Pada zaman dahuli hiduplah sepasang suami dan istri. Mereka memiliki seorang anak laki-laki dan anak perempuan. Pada suatu hari, ibu mereka meninggal dan ayahnya menikahi wanita lain. Ibu tirinya tidak peduli dan tidak perhatian terhadap anak-anaknya. Mereka mempunyai sapi coklat yang bagus, sapi itu peninggalan ibunya. Maka, setiap kali mereka pulang sekolah, mereka selalu mendatangi sapi tersebut. Sehingga, mereka sangat bahagia. Saat lapar, mereka hanya meminum susu sapi. Mereka sangat menyukainya. Tapi, kemudian hari ibu tirinya mengetahui perihal tersebut.
Suatu hari, dia menunggu suaminya datang dari bekerja dan ia berpura-pura sakit. Sehingga, suaminya menangisinya
“ Ah, saya sakit! Saya ingin memakan hati sapi coklat dan hanya itulah satu-satunya obat!”. Suaminya pun pergi dan mengatakan pada anak-anaknya untuk memotong sapi itu. “ Anak-anak tidak ingin membunuh sapi itu.”dia pun berkata. Tetapi ibu tirinya tetap menangis dan berkata padanya ;” Betapa teganya kamu dan anak-anakmu? Kamu inginkan aku mati duluan seperti istri pertamamu?”
Ayahnya pun menyetujunya dan memutuskan untuk membunuh sapi itu. Saat anak-anak pulang dari sekolah, mereka pun menangisi kematian sapi itu. Tetapi, ayahnya tidak menghiraukannya.
Anak-anak tidak memukul ayahanya, tetapi hanya mengendarainya sebelum dia mati. Ayahnya pun menyetujuinya. Anak-anak menunganginya dan berlari jauh ketengah hutan. Hari berikutnya, mereka menemukan emas ditengah hutan. Kakaknya menangis dan meninggalkan pohon itu. Tapi, adiknya membawa daun emas dan menghiasi rambutnya
Mereka lewati emas, perak dan tembaga dihutan. Setiap kali daun itu menempel dikepalanya. Saat mereka melewati hutan ketiga dan adiknya kembali duduk diatas batu. Kakaknya menangis, saat melihat sapi itu menolong mereka. Sapi itu mengatakan bahwa air mata dari tiga jari kakinya dan mereka membakarnya. Tiba-tiba, adiknya hidup kembali. Tetapi, ibu tirinya kembali tinggal dibatu. Anak-anak pun pulang dan hidup bahagia bersama.

No comments: