Mengulas Essai dan Cerpen
( Hasil Diskusi Intelektual)
Oleh : Elsya Crownia*
Sore itu, meskipun sedikit rinai diiringi senandung hujan membahana di cakrawala. Seperti biasa program diskusi mingguan akan tetap berjalan, dengan keterbatasan ruangan dihiasi suara ceria yang dapat menghidupkan suasana jiwa yang kala itu terasa letih dan lelah menyeruak seperti tak terengkuh oleh duka. Apalagi menunggu kedatangan sang pengumpul dan pengiring diskusi. Memang perut terasa kenyang setelah diisi sebungkus nasi. Nah dalam diskusi dalam rangka mengulas essai dari Dewi , Nurfitria ( Nippon Sensei) menjelaskan bahwa tema yang diangkat menarik. Sedangkan penulis sendiri memaparkan bahwa tema yang diangkat cukup menarik, meskipun hanya sepenggal dari pengamatan sang penulis tetapi di dalam tulisan tersebut tidak ada opini yang dijabarkannya sendiri. Om Kw menambahkan bahwa ada beberapa kriteria dalam tulisan tersebut antara lain (1) berantakan, (2) sukses, dan (3) motivasi yang menekankan antara membagi antara kuliah dengan kerja. Papa ( Rusli Marzuki Saria) pun ikut menambahkan referensi dengan Muhammad Yamin dikala mengeyam bangku kuliah dengan bekerja menyetrika dan mencuci baju.
Dalam diskusi membahas karya Nurfitria, Ria Febrina menyatakan bahwa dalam tulisan tersebut tidak ditemukan berbagai perbedaan namun Om Kw menambahkan bahwa anak-anak tak banyak berpikir dalam membaca cerita tetapi mereka hanya menikmati bacaan yang dibacakan oleh orang tuanya, hanya dengan aturan SPOK. Biasanya dalam cerita anak terdiri dari 1500-2500 kata. Bahasa yang digunakan pun sederhana jadi disarankan agar penulis menemukan karakter anak-anak.
Selanjutnya, kami mengulas cerpen Kak Maya yang tidak terlihat unsur budaya Minangkabau misalnya harta anak yatim pada zaman dahulu tidak dapat diganggu gugat tetapi akan diserahkan kembali saat mereka telah beranjak dewasa. Namun, di masa sekarang Papa menyatakan bahwa masyarakat sekarang ini banyak yang menyetir harta anak yatim atau dalam pencaplokan warisan di Minangkabau bahwa harta pusako yang menguasai mamak dalam kaum. Sedangakan, warisan yang di jawek oleh kemenakan berupa gelar, tetapi harta pusako akan menjadi milik Bundo Kanduang . Om Kw menyatakan bahwa konflik yang terjadi di tengah masyarakat Minangkabau kalau dilihat dari sisi psikologi dan sosiologi masyarakarat, harta yang belum dibagi merupakan harta pusaka. Tidak masuk akal memang, bila mamak membunuh kemenakan demi harta warisan. Papa menambahkan bahwa dalam Islam harta anak yatim tidak boleh diganggu gugat jadi sebaiknya Kak Maya menceritakan cerita lama dengan gaya komtemporer, dari segi kelemahan gaya penceritaan sebenarnya tidak perlu dibubuhkan surat. Karena dengan adanya surat maka akan terlihat adanya kelemahan dalam cerita tersebut. Jadi, sebaiknya lansung menghadirkan latar belakang permasalahan yang terjadi dalam cerpen. Logika tentang budaya masyarakat Minangkabau tidak ditemukan. Bisa dicontohkan dalam Surau dan bagaimanakah situasi masyarakat Minangkabau yang telah kehilangan mamak dalam kaum sehingga, status keluarga Minangkabau berubah menjadi nuclear family ( keluarga inti), sehingga peran mamak tergantikan oleh peran Ayah dan Ibu. Selain itu, ada peleburan bahasa Minangkabau yang berubah menjadi bahasa lo dan gue ( ala Jakarta), kenyataannya itulah yang tengah terjadi dalam masyarakat karena mereka tidak bangga dengan status Minangkabau seperti para perantau yang bernostalgia dengan mendengar lagu Minangkabau itupun hanyalah berupa kerinduan semata setelah itu mereka akan melupakannya.Kesimpulannya, perlu diadakan pengajian ulang tentang budaya Minangkabau oleh Kak Maya.
Selanjutnya, kami membahas cerpen Marni karya Ria Febrina, kelihatannya bahasa dan penuturan bahasa cukup menarik dengan menghadirkan konflik psikologi pengarang. Namun, disisi lain si pengarang memang dihilangkan apabila membaca karyanya. Selanjutnya, hasil dan argumentasi itu sendiri diserahkan kepada si pembaca. Sukses tidaknya sebuah cerpen itu tergantung pada si pembaca. Dalam pengisahan memang tidak dijelaskan urutan peristiwa yang dialami oleh sipenulis, penulis sendiri memposisikan dirinya hanya sebagai narator dalam narasi. Mungkin kisah dia kala bertemu dengan ibunya atau reaksi sang ibu ketika menerima dia kembali. Nah, bagaimanakah sang suami pada mulanya dilarang untuk bekerja disaat konfliknya sang suami dipecat dan meminta sang istri untuk kembali berkarir.
Cerita Marni merupakan refleksi kehidupan anak muda yang tengah jatuh cinta sehingga, menganggap bahwa laki-laki pilihannya adalah segala-segalanya, ia idaman setiap wanita dan mungkin sang wanita pun demikian hingga pad akhirnya timbul rasa penyesalan yang menyelisik kalbu dan melelahkan jiwa sehingga, tempat mengadu hanya pada sang muda.
Pesan dalam cerita tersebut cukup bagus bahwa tidak ada tempat yang bakal kau singgahi, karena di sanalah engkau akan menemukan kebahagiaan yaitu ibu. Ibu ibarat surga yang selalu mengalir di sungai kecil menyejukkan jiwa yang terlalu terjun kelaut hitam.
Disamping, tidak ada yang lebih berarti di dalam persahabatan dan cinta hanyalah sepenggal nafsu bukan kesejatian karena seharusnya cinta di ramu oleh-Nya. Dengan mencintai-Nya maka cinta akan bercahaya di selinsing fajar Timur.
***Padang, HijauMuda 28 Januari 2008
Monday, February 18, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment