TENTANG SABAI DAN JELATANG
(Wawancara dengan Wisran Hadi)
Oleh: Elsya Crownia
Setiap minggu, para pelanggan Padang Ekpress, tidak asing lagi membaca cerita Jelatang dan Sabai di halaman StressTb. Kita penasaran tentang proses penulisan cerita tersebut bukan?. Nah, awal mulanya muncul halaman StressTb adalah sebuah proses awal Padang Ekpres mengembangkan diri. Menurutnya, apabila media ini ingin menonjolkan diri, maka dibutuhkan ide yang kontroversi. Terbetiklah, ide membuat halaman berbahasa Minang, pada awalanya tulisan tersebut sempat terhenti.
Saat bercerita dengan Bapak Wisran Hadi, sempat terpikirkan tokoh yang tepat dalam halaman tersebut. Maka, lahirlah Simalanka, yang menuturkan tentang permasalahan adat. Mengapa dalam Jelatang tokoh utama laki-laki sedangkan di Sabai tokoh utamanya perempuan.
Menurutnya, Sabai Nan Aluih merupakan tokoh yang kontroversi di Minangkabau karena Sabai tidak mempunyai mamak sehingga, pada saat itu ia dilamar melalui Bapaknya. Jelas, sangat kontroversi dengan adat Minangkabau karena apabila wanita yang dilamar hendaknya melalui mamak. Keasyikan beliau dalam menulis cerita Sabai, ditambah dengan kenakalan untuk mengemas cerita. Sabai memang tokoh wanita yang kontroversi, karena dia pernah menolak lamaran Rajo Nan Panjang. Kemudian, ayahnya dibunuh oleh Rajo Nan Panjang. Melihat keadaan tersebut Sabai tidak tinggal diam, dia berani mengambil tindakan dengan membunuh Rajo Nan Panjang.
Yang menyebabkan hal tersebut terjadi karena adik laki-laki Sabai tidak berani mengambil tindakan. Dengan arti kata, Sabai Nan Aluih. Aluih atau halus merupakan pengertian sikap, wanita yang halus tutur katanya namun, disisi lain bisa bertindak keras. Halus bukanlah fisik, tetapi jiwa, perasaan, dan sifat (budi pekerti). Bapak Wisran Hadi menjelaskan bahwa tokoh Sabai Nan Aluih hanyalah tokoh rekaan dalam kaba, maka terlebih dahulu beliau melakukan studi tentang tokoh Sabai ini.
Sebenarnya, perbedaan antara Sabai dan Jelatang. Sesungguhnya, perbedaannya tokoh Sabai mempunyai adik laki-laki yang bernama Mangkutak. Sikap Mangkutak yang tidak pernah memarahi kakaknya hanya sekedar menyindir, mencemooh. Dari tokoh tersebut, kita dapat melihat bagaimana sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau tempo dulu. Dapat kita bandingkan tata pergaulan pemuda dan pemudi Minangkabau saat ini. Mengapa generasi muda kabur dalam memahami adat karena orang tua tidak secara lansung mencontohkan kepada mereka.
Pernahkan Bapak Wis mendapatkan kritikan dari para pembaca Jelatang dan Sabai Nan Aluih?. Menurut beliau, kalau dilihat dari segi historis, sebenarnya cerita Sabai dan Jelatang hanya sekedar sebagi ventilasi dalam media, bukan sebagi lawakan yang menimbulkan kelucuan tetapi sekedar sebagi carito bagarah yang berisi humor yang menggunakan bahasa Minang. Kalau kita lihat dari gaya bahasa, persoalan yang diangkat dikemas dan dijelatangkan sehingga, cerita tersebut terlihat menarik. Tentu sangat berbeda kritikan pers, masyarakat Minang,dan para sastrawan. Jelatang hadir sebagai carito lapau yang bakal kena tentu orang yang mendengarnya. Dengan kata lain, cerita ini hanya sekedar sindiran halus.
Beliau juga menjelaskan bahwa peradaban mempengaruhi sikap dari kebiasaan. Peradaban dan budaya sangat berbeda pengertiannya. Budaya kebiasaan yang terjadi selama turun temurun misalnya makan bajamba, sedangkan peradaban merupakan hasil budaya dengan, ditambah dengan kreatifitas misalnya menghias piring. Peradaban dalam masyarakat Minangkabau saat ini belum begitu terlatih. Pada tempo dahulu, peradaban berkembang melalui karya sastra seperti Anggun Nan Tongga, Cindua Mato. Artinya, peradaban akan melahirkan kualitas, mutu dari pelaku budaya. Itu artinya peradaban sangat kompleks bentuknya.
Beliau menuturkan bahwa peradaban Minangkabau pada masa kerajaan Melayu yang menghasilkan adat yang semakin lama semakin dangkal karena tidak pernah diajarkan lagi dalam lingkungan keluarga, sedangkan yang muda tidak mau menerima, cendrung terpengaruh dunia luar.
Kenyataannya, disekolah hanya sekedar mengkaji kebudayaan alam Minangkabau dengan pengadaan pelajaran BAM. Berbeda sekali dengan Minangkabau dahulu, mereka tidak hanya sekedar mengkaji tetapi, lansung dicontohkan. Nah, dalam Sabai ini ditujukan sebagai media kritik sosial dalam media massa.
Beliau juag menjelaskan, bahwa orang Minangkabautidak mau diajari tetapi, apabila mereka dituding dengan teguran, cemoohan, asalkan dengan menggunakan aka dan logika yang sehat. Kenyataannya, banyak anak muda tidak mengerti karena dahulu mereka tidak pernah diajari budi pekerti. Saat ini sekolah hanya diajarkan untuk bercakap-cakap bukan mengarang. Kalau dilihat, sistem pendidikan hanyalah merupakan kebijakan politik semata. Bahkan, anak-anak tidak diperkenalkan makna surau yang sesungguhnya, dahulu surau digunakan oleh anak muda untuk belajar, atau membaca kaba serta dilatih untuk mrnjelaskannya sedangkan sekarang, mahasiswa kesulitan dalam membuat skripsi
Disamping itu, anak muda Minang mengalami kekaburan dalam memahami adat. Wajar, kalau mereka pada akhirnya terjerumus pada narkoba. Anak muda menjadi kurang ajar karena golongan tua menganggap bahwa mereka baik. Kekurang ajaran anak muda, berawal dari yang tua. Tetapi, masyarakat kita tidak pernah menyadarinya.
Komunitas HijauMuda, diruang senja 20 Februari 2007
No comments:
Post a Comment